Momen Emas Wyatt-Hodge: Century untuk Bayi dan Kebangkitan Inggris di Piala Dunia T20
Baca dalam 60 detik
- Danni Wyatt-Hodge mencetak 105 not out melawan Sri Lanka di laga pembuka Piala Dunia T20, mendedikasikan ton tersebut untuk putrinya yang baru berusia tiga minggu.
- Pemain berusia 35 tahun ini kembali bermain hanya 10 hari setelah melahirkan, menunjukkan ketangguhan mental dan fisik yang luar biasa.
- Penampilan gemilangnya menjadi sinyal kebangkitan Inggris di turnamen kandang, sekaligus menginspirasi perbincangan tentang keseimbangan karir dan keluarga bagi atlet wanita.

Danni Wyatt-Hodge mengukir sejarah di laga pembuka Piala Dunia T20 Wanita dengan century penuh emosi, mendedikasikan 105 not out-nya untuk putri kecilnya yang baru lahir. Dalam atmosfer kandang yang membara di Sharjah, pemain Inggris berusia 35 tahun itu membuktikan bahwa menjadi seorang ibu tak menghalangi ambisi di panggung tertinggi kriket dunia.
Wyatt-Hodge, yang melahirkan putri pertamanya pada 20 Mei lalu, kembali ke lapangan hanya sepuluh hari kemudian. Ia mengaku rindu berat pada sang buah hati yang ditinggal selama enam hari, namun tekadnya tak pernah goyah. “Saya pikir, saya harus dapat seratus untuk Daisy,” ujarnya usai pertandingan. Gestur mengayun bat seperti menggendong bayi menjadi selebrasi khas yang mengharukan penonton.
Kemenangan Inggris atas Sri Lanka dengan selisih 51 run ini menjadi pernyataan awal yang kuat. Wyatt-Hodge, yang sempat diragukan karena cuti melahirkan, justru tampil sebagai bintang. Mantan rekan setim Katherine Sciver-Brunt memuji kemampuannya tampil di bawah tekanan: “Dia justru berkembang dalam situasi seperti ini. Jangan heran jika ia menjadi pencetak run tertinggi turnamen.”
Kapten Nat Sciver-Brunt, yang juga seorang ibu, menjadi saksi di sisi lain saat Wyatt-Hodge mencapai tiga digit. Keduanya merayakan dengan gaya serupa—mengayun bat seperti menimang bayi. “Senang bisa merayakan bersama Nat, dua ibu,” kata Wyatt-Hodge. Momen ini menegaskan bahwa peran sebagai orang tua tak mengurangi performa atlet, bahkan menjadi sumber motivasi baru.
Perjalanan Wyatt-Hodge tak selalu mulus. Debutnya pada 2010 di Mumbai bersama Heather Knight menandai awal karier yang panjang. Namun, saat Inggris juara Piala Dunia 2017, ia hanya menjadi pemain pelapis. Kini, di usia 35 tahun, ia menemukan puncak karier yang sempurna. “Ini seperti mimpi yang menjadi nyata,” ungkapnya. “Bermain di Piala Dunia kandang, lalu bisa bertemu istri dan putri keesokan harinya.”
Bagi Indonesia, kisah Wyatt-Hodge menjadi refleksi penting tentang dukungan bagi atlet perempuan yang juga ibu. Di tengah minimnya fasilitas cuti melahirkan di banyak cabang olahraga Tanah Air, contoh Inggris yang memberikan ruang bagi pemainnya untuk pulih dan kembali bersinar patut dicontoh. Federasi kriket Indonesia dapat belajar dari kebijakan progresif ini untuk mendorong partisipasi perempuan tanpa mengorbankan karir.
Laga berikutnya Inggris akan menghadapi Irlandia, yang belum pernah menang dalam 17 pertandingan Piala Dunia T20. Wyatt-Hodge diprediksi tetap menjadi andalan di puncak order. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan performa dan membawa Inggris merebut gelar kandang pertama sejak 2017?



