Rochi Putiray: Gaya Nyentrik Bukan Sekadar Tren, Ini Strategi Bangkitkan Mental
Baca dalam 60 detik
- Rochi Putiray mengaku penampilan eksentriknya lahir dari kebosanan dan penurunan produktivitas sebagai striker.
- Terinspirasi iklan sabun dan pemain Vietnam, ia mulai mewarnai rambut dan memakai sepatu beda warna untuk memicu motivasi.
- Gaya unik itu terbukti mengembalikan kepercayaan diri dan membuatnya kembali tajam di lapangan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3214314/original/099670600_1597910611-Timnas_Indonesia_-_Rochi_Putiray.jpg)
Legenda sepak bola Indonesia, Rochi Putiray, bukan sekadar dikenal karena ketajamannya di depan gawang. Di usia 55 tahun, penampilannya yang tetap prima dan gaya rambut serta sepatu yang tak biasa menjadi ciri khas yang melekat. Namun di balik penampilan nyentrik itu, tersimpan strategi mental yang ia bangun untuk mengatasi masa-masa sulit dalam kariernya.
Dalam perbincangan di kanal YouTube Bola.com, pria kelahiran Situbondo itu mengungkapkan bahwa gaya uniknya bukan sekadar ikut-ikutan tren. Justru, hal itu lahir dari keresahan saat ia merasa terlalu nyaman di klub Arseto Solo pada era 1987–1999. Tanpa persaingan ketat, produktivitas golnya justru menurun drastis. “Saya jadi tidak punya tantangan. Saya bisa sakit, pura-pura sakit, tidak latihan, tapi tetap jadi starter,” kenangnya.
Penurunan performa itu mendorong Rochi mencari cara untuk membangkitkan kembali gairah bermain. Inspirasi pertama datang dari iklan sabun cuci Daia yang menampilkan model dengan rambut lancip warna-warni. Tanpa ragu, ia membeli karet gelang kecil dan mulai menata rambutnya sendiri. Namun, proses yang memakan waktu hingga dua jam membuatnya beralih ke cat rambut setelah melihat pelanggan di salon. “Cuma 15 menit, lebih praktis,” ujarnya.
Tak berhenti di rambut, Rochi juga mengadopsi kebiasaan memakai sepatu dengan warna berbeda. Ide itu ia dapat saat berhadapan dengan tim Vietnam yang menggunakan sepatu ‘Taman Puring’—sepatu murah dengan warna tidak seragam. “Ada yang pakai sebelah-sebelah, beda merek. Saya pikir, ini boleh juga jadi inspirasi,” katanya. Kombinasi rambut warna-warni dan sepatu belang itu menjadi semacam ritual yang memicu semangatnya.
Bagi Rochi, penampilan beda bukan sekadar gaya, melainkan alat untuk membangun kepercayaan diri. “Itu jadi motivasi karena saya sering tampil beda. Saya kembali lagi bersemangat,” tegasnya. Strategi ini terbukti efektif: ia kembali menjadi mesin gol yang disegani, baik di level klub maupun tim nasional. Bahkan, salah satu penampilan paling dikenang adalah saat ia masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak dua gol ke gawang AC Milan pada laga persahabatan 30 Mei 2004.
Kisah Rochi Putiray menjadi pengingat bahwa dalam olahraga profesional, aspek mental sering kali sama pentingnya dengan fisik. Gaya unik yang mungkin terlihat aneh bagi sebagian orang, baginya adalah kunci untuk keluar dari zona nyaman dan mempertahankan performa puncak. Di tengah sepak bola modern yang serba seragam, Rochi membuktikan bahwa menjadi berbeda bisa menjadi senjata paling ampuh.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pendekatan serupa bisa diadopsi oleh pemain muda Indonesia yang kerap menghadapi tekanan mental? Ataukah ini hanya formula personal yang lahir dari pengalaman unik seorang legenda?



