ASEAN Dinilai Jadi Model Tata Kelola Global di Tengah Fragmentasi Dunia
Baca dalam 60 detik
- Forum Oxford menempatkan ASEAN sebagai contoh kerja sama regional yang relevan di tengah meningkatnya polarisasi global.
- Para panelis menyoroti pentingnya diplomasi, konsensus, dan integrasi sektor swasta sebagai kunci ketahanan ASEAN.
- Kesepakatan kerangka ekonomi digital pertama di dunia yang dicapai ASEAN menjadi bukti nyata efektivitas pendekatan kolektif.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan melemahnya kepercayaan terhadap institusi multilateral, pendekatan kooperatif ASEAN dinilai menawarkan pelajaran berharga bagi tata kelola global. Pandangan ini mengemuka dalam forum bertajuk "Leadership in a Fractured World: Lessons from ASEAN for Global Governance” yang diselenggarakan di Oxford, Inggris, oleh Tun Razak Foundation (TRF) bekerja sama dengan Blavatnik School of Government, Universitas Oxford.
Forum yang digelar di tengah peringatan 50 tahun TRF dan 50 tahun wafatnya Tun Abdul Razak Hussein itu menghadirkan sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua TRF Tan Sri Nazir Tun Razak, mantan Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati, dan Ketua Badan Pengembangan Investasi Malaysia (MIDA) Tengku Datuk Seri Utama Zafrul Aziz. Mereka sepakat bahwa model ASEAN yang mengedepankan dialog dan konsensus justru semakin relevan di era fragmentasi.
Nazir Razak mengingatkan bahwa pendiri ASEAN, termasuk ayahnya yang merupakan Perdana Menteri Malaysia kedua, Abdul Razak Hussein, merancang organisasi ini di tengah tantangan besar pascakolonial, Perang Dingin, dan konflik regional. "Diplomasi, kerja sama regional, dan institusi yang kuat adalah pilar penting perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan," ujar Nazir, menekankan pentingnya kepemimpinan yang akuntabel.
Sri Mulyani Indrawati, yang memimpin kebijakan fiskal Indonesia selama lebih dari satu dekade, menekankan bahwa kepemimpinan yang efektif membutuhkan keberanian mengambil keputusan sulit dan kemampuan membangun kepercayaan lintas institusi. "ASEAN tidak seperti cetakan besi Uni Eropa. Kami terus menyesuaikan kebijakan menuju liberalisasi, tetapi tetap melalui proses membangun konsensus," jelasnya. Ia menambahkan bahwa demokrasi yang sehat bergantung pada kemampuan pemimpin mempertahankan kepercayaan publik di tengah perubahan.
Dari sisi ekonomi, Zafrul Aziz menyoroti pencapaian ASEAN yang baru saja menuntaskan perjanjian kerangka ekonomi digital—yang disebutnya sebagai perjanjian perdagangan bebas digital pertama di dunia. "Jika Anda ingin bertaruh pada masa depan ASEAN, jangan bertaruh pada AS atau China, tetapi bertaruhlah pada kebersamaan," tegasnya. Menurut Zafrul, koordinasi dan kepercayaan antarnegara anggota tetap terjaga meskipun masing-masing menghadapi tekanan ekonomi dan kepentingan yang bersaing.
Bagi Indonesia, forum ini memberikan cerminan bahwa pendekatan ASEAN yang inklusif dan berbasis konsensus masih relevan, terutama dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kian kompleks. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga arah kebijakan blok ini, termasuk dalam mendorong integrasi ekonomi digital yang baru saja dirintis. Pertanyaan besarnya, mampukah ASEAN mempertahankan kohesi di tengah tarikan kepentingan negara-negara besar seperti AS dan China?



