Liga Inggris Longgarkan Aturan Kartu Merah untuk Tarik Rambut Musim Depan
Baca dalam 60 detik
- Liga Primer Inggris akan merevisi interpretasi pelanggaran tarik rambut mulai musim 2026/27, dengan menekankan unsur kesengajaan dan kekuatan berlebihan.
- Tiga pemain diusir karena tarik rambut musim ini, namun aturan baru membedakan antara aksi brutal dan insiden tidak disengaja.
- Liga juga akan menindak tegas pelanggaran di kotak penalti, termasuk grappling dan taktik 'timeout' kiper yang dinilai merusak ritme pertandingan.

Liga Primer Inggris akan mengubah pendekatan wasit dalam menilai pelanggaran tarik rambut mulai musim 2026/27, menyusul tiga kartu merah yang dikeluarkan untuk insiden serupa pada musim 2025/26. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Tahunan (AGM) Liga Primer awal bulan ini, setelah berkonsultasi dengan dewan penasihat peningkatan permainan (game improvement advisory board).
Dalam musim ini, tiga pemain—Michael Keane (Everton), Lisandro Martinez (Manchester United), dan Dan Ballard (Sunderland)—diusir keluar lapangan setelah VAR mengintervensi insiden tarik rambut. Manajer United, Michael Carrick, menyebut keputusan terhadap Martinez sebagai "salah satu keputusan terburuk yang pernah saya lihat," meskipun banding untuk membatalkan larangan tiga pertandingan gagal. Sementara itu, bek Stockport County, Josh Dacres-Cogley, juga mendapat kartu merah di final play-off League One.
Namun, mulai musim depan, tidak setiap tarikan rambut akan berujung kartu merah. Wasit akan diminta untuk menilai tingkat kekuatan dan niat di balik aksi tersebut. Pedoman baru menyebutkan bahwa pelanggaran harus merupakan "tindakan yang jelas dan disengaja" dengan "kekuatan berlebihan dan/atau kebrutalan." Dengan kriteria ini, Keane kemungkinan besar tetap diusir karena tarikannya terhadap Tolu Arokodare (Wolves) dinilai sebagai kekerasan. Sementara Ballard dan Dacres-Cogley mungkin hanya mendapat kartu kuning—meski VAR tidak bisa campur tangan untuk kartu kuning. Kasus Martinez dianggap kasus perbatasan yang terbuka untuk interpretasi.
Perubahan ini bertujuan memberi kelonggaran bagi pemain yang secara tidak sengaja memegang rambut lawan. Namun, bukan berarti tarik rambut akan ditoleransi. Wasit tetap akan menghukum aksi yang jelas-jelas disengaja dan brutal.
Selain tarik rambut, Liga Primer juga akan menekankan pengawasan terhadap pelanggaran di area penalti, terutama grappling dan holding yang marak terjadi pada situasi tendangan sudut dan set-piece. Pertandingan antara Everton dan Manchester United pada Maret lalu menjadi contoh kekacauan di kotak penalti: beberapa pemain Everton berdiri di atas kiper Senne Lammens, Leny Yoro didorong ke gawang oleh James Tarkowski, dan Harry Maguire ikut terlibat. Manajer Everton, David Moyes, mengkritik wasit yang enggan turun tangan: "Anda merasa sekarang wasit benar-benar tidak mau terlibat dalam semua ini. Sangat buruk bahwa mereka tidak mencoba menanganinya."
Mulai musim depan, wasit akan diminta lebih memperhatikan "tindakan holding yang memiliki dampak material jelas," termasuk pemain yang "hanya fokus pada lawan dan melakukan holding." Pelanggaran terhadap kiper juga akan dihukum jika tidak ada niat memainkan bola.
Isu lain yang menjadi sorotan adalah taktik "tactical timeout" yang dilakukan kiper—duduk di lapangan dan memanggil fisioterapis, sementara pemain lain berlari ke area teknis untuk menerima instruksi. Survei tahunan menunjukkan 85% responden menganggap ini masalah. Liga Primer sedang mendiskusikan solusi, setelah Piala Dunia melarang pemain mendekati touchline untuk menghentikan praktik ini. Pemborosan waktu oleh kiper secara umum (73% responden mengeluh) akan diatasi dengan aturan baru: jika kiper menunda tendangan gawang, wasit dapat memulai hitungan mundur lima detik, dan jika waktu habis, lawan mendapat tendangan sudut.
Survei juga mengungkapkan 68% responden mendukung siaran langsung audio dan rekaman VAR, sementara 37% mendukung VAR untuk meninjau tendangan sudut. Namun, Liga Primer memutuskan tidak mengadopsi opsi kompetisi untuk VAR memeriksa tendangan sudut seperti yang diterapkan di Piala Dunia. Kecepatan pengambilan keputusan VAR tetap menjadi tema utama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perubahan ini relevan mengingat banyak pemain Indonesia yang berlaga di liga Eropa atau menjadi contoh bagi wasit lokal. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru dapat mempertimbangkan adaptasi aturan serupa untuk meningkatkan kualitas pertandingan di Liga 1, terutama dalam menangani pelanggaran teknis seperti tarik rambut dan taktik menghabiskan waktu. Pertanyaannya, akankah wasit Indonesia mampu menerapkan nuansa seperti "kesengajaan" dan "kekuatan berlebihan" secara konsisten?



