Setahun Tragedi Air India: Duka Keluarga Korban Belum Reda, Investigasi Masih Berjalan
Baca dalam 60 detik
- Keluarga korban kecelakaan Air India Flight 171 menggelar doa dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat, setahun setelah 260 orang tewas.
- Penyebab pasti kecelakaan belum terungkap; otoritas penerbangan India berjanji menyelesaikan investigasi secara menyeluruh.
- Para keluarga mendesak transparansi dan kejelasan, di tengah trauma yang masih membekas dan proses hukum yang berlarut.

Setahun telah berlalu sejak Air India Flight 171 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Ahmedabad, namun duka keluarga korban tak kunjung surut. Pada peringatan pertama tragedi yang merenggut 260 jiwa itu, doa bersama dan aksi tabur bunga digelar di sejumlah kota, mengingatkan publik bahwa luka akibat bencana penerbangan paling mematikan di India itu masih menganga.
Pesawat yang hendak terbang menuju London itu jatuh menimpa sebuah kompleks perguruan tinggi kedokteran, menewaskan 241 penumpang dan awak serta 19 orang di darat. Hanya satu penumpang yang selamat. Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan belum diumumkan. Menteri Penerbangan Sipil India, Ram Mohan Naidu, menyatakan investigasi berjalan dengan "ketekunan dan profesionalisme" serta laporan akhir akan diterbitkan setelah penyelidikan tuntas.
Di Ahmedabad, lokasi kecelakaan masih steril. Bangunan hangus yang menjadi saksi bisu tragedi itu dipenuhi karangan bunga, foto, dan pesan dari keluarga. Pada Jumat lalu, kerabat korban berdatangan membawa potret orang-orang tercinta. Suasana haru tak terbendung saat mereka berdoa dan berpelukan di bawah reruntuhan asrama mahasiswa yang menghitam.
Kisah pilu datang dari keluarga Akash Patni, bocah 12 tahun yang tengah membantu di warung teh saat pesawat jatuh. Ibunya, Sitaben, yang menderita luka bakar parah, untuk pertama kalinya kembali ke lokasi kecelakaan pada peringatan setahun. Ia duduk di atas tikar di bawah foto Akash yang dihiasi kalungan bunga, sambil melantunkan kidung suci Hindu. Air matanya tak tertahan saat kerabat berusaha menenangkan.
Keluarga Thakur di Ahmedabad juga masih bergulat dengan duka. Sarlaben Thakur dan putrinya yang berusia dua tahun, Aadhya, tewas saat pesawat menimpa asrama. Rumah mereka yang sempit tak mampu menampung hampir 200 pelayat yang datang. "Kami menyebut 12 Juni sebagai hari hitam," ujar Uma Thakur, putri Sarlaben. Rasa kehilangan begitu dalam sehingga mereka melepas semua jam dinding di rumah. "Bahkan melihat waktu bisa mengingatkan kami pada jam-jam mencekam setelah kecelakaan, saat kami mencari ibu dan adik di rumah sakit dan kamar mayat."
Di tengah keterbatasan, keluarga Thakur tetap menyiapkan hidangan untuk para pelayat, termasuk mi renyah dan manchuria, makanan favorit Aadhya. "Dengan cara ini, mereka tetap hadir di rumah kami," kata Uma. "Kami berharap ini bisa memberi sedikit kedamaian, setidaknya untuk sementara."
Di Nhava, Navi Mumbai, keluarga pramugari Maithili Patil menggelar doa bersama. Sembilan bulan setelah kecelakaan, tas Maithili akhirnya dikembalikan ke keluarga. Pada peringatan setahun, tas itu diletakkan di samping barang-barang pribadinya. Ibunya, Pramila Patil, masih menanti kejelasan. "Putri saya tak akan kembali. Saya hanya ingin tahu kebenaran penyebab kecelakaan ini," katanya kepada BBC Marathi.
Vishwash Kumar Ramesh, satu-satunya penumpang selamat, mengaku masih hidup dengan "luka psikologis yang dalam" setelah kehilangan saudaranya dalam kecelakaan itu. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya kejujuran dan transparansi. "Tidak ada yang bisa mengubah apa yang terjadi, tetapi keluarga berhak mendapat kejelasan," ujarnya.
Bagi Indonesia, tragedi Air India ini menjadi pengingat akan pentingnya investigasi kecelakaan penerbangan yang transparan dan akuntabel. Meskipun kasus ini terjadi di India, prinsip keselamatan penerbangan bersifat universal. Keluarga korban di Indonesia yang pernah mengalami musibah serupa, seperti jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dan Sriwijaya Air SJ 182, tentu dapat merasakan pahitnya penantian jawaban yang tak kunjung tiba. Pertanyaan besarnya, apakah otoritas India mampu menyelesaikan investigasi ini dengan tuntas dan memberikan keadilan bagi 260 jiwa yang melayang?



