Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tuntas, Harga Minyak Langsung Anjlok
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian damai dengan Iran dapat ditandatangani akhir pekan ini di Eropa, mengakhiri konflik yang telah menutup Selat Hormuz.
- Klaim Trump dibantah sementara oleh media Iran, namun kemudian disebutkan peluang disetujui cukup tinggi karena AS menerima teks yang diajukan Teheran.
- Jika terealisasi, kesepakatan ini akan membuka kembali jalur minyak global dan berpotensi menekan harga energi, termasuk di Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (12/6) mengumumkan bahwa negosiasi dengan Iran telah mencapai titik final dan sebuah kesepakatan damai bisa ditandatangani akhir pekan ini di Eropa. Pernyataan itu menjadi kejutan besar karena hanya beberapa jam sebelumnya Trump masih mengancam akan melancarkan serangan baru dan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Jika terealisasi, perjanjian ini akan membuka kembali Selat Hormuz yang telah ditutup sejak perang pecah pada akhir Februari lalu, mengembalikan stabilitas pasar energi global.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah menyetujui nota kesepahaman yang disebutnya "sangat kuat namun sedikit konseptual." Trump menegaskan bahwa Iran sepakat untuk tidak memiliki senjata nuklir, meskipun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia juga mengaku telah bertelepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sejumlah pemimpin regional lainnya untuk membahas perkembangan ini. Wakil Presiden JD Vance akan dikirim ke upacara penandatanganan.
Namun, klaim Trump mendapat respons beragam dari Teheran. Kantor berita semi-resmi Fars awalnya melaporkan bahwa Iran belum menyetujui "draf perjanjian atau nota kesepahaman awal" dengan AS. Namun, dalam pemberitaan berikutnya, Fars menyebut peluang disetujuinya dokumen tersebut "relatif tinggi" karena Washington telah menerima teks yang diajukan Iran. Sikap berubah ini mencerminkan dinamika negosiasi yang masih cair.
Sebelum pengumuman mengejutkan itu, Trump sempat mengancam akan menghancurkan Iran dan merebut Pulau Kharg. Namun, melalui media sosial, ia membatalkan rencana serangan tersebut dengan alasan bahwa pembicaraan telah dibawa ke level tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui. Trump juga menyebut bahwa poin-poin akhir perundingan telah mendapat persetujuan dari semua pihak terkait, termasuk Israel, Pakistan, Qatar, Turki, dan Arab Saudi.
Dampak langsung dari pernyataan Trump terlihat di pasar keuangan. Harga minyak mentah dunia anjlok, sementara indeks saham AS meroket. Bagi Indonesia, pembukaan kembali Selat Hormuz akan menjadi angin segar. Selama konflik, harga minyak impor melonjak dan tekanan pada APBN semakin besar. Jika kesepakatan benar-benar terwujud, beban subsidi energi bisa berkurang dan stabilitas harga bahan bakar di dalam negeri lebih terjaga.
Meski optimisme mengemuka, sejumlah analis mengingatkan bahwa detail kesepakatan masih abu-abu. Trump sendiri menyebut dokumen itu "konseptual," dan belum ada konfirmasi resmi dari Iran. Pertanyaan besar masih menggantung: apakah kesepakatan ini benar-benar akan mengakhiri permusuhan yang telah berlangsung puluhan tahun, atau hanya gencatan senjata sementara?



