Jepang-Inggris Rancang Kerja Sama Energi: Angin Lepas Pantai hingga Nuklir
Baca dalam 60 detik
- Tokyo dan London akan menandatangani nota kesepahaman energi yang mencakup pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, nuklir generasi baru, dan fusi nuklir.
- Kesepakatan ini muncul di tengah upaya Jepang mengurangi ketergantungan pada minyak Timur Tengah pasca konflik Iran-AS.
- Kerja sama juga mencakup rantai pasok semikonduktor, AI, dan proyek jet tempur generasi baru bersama Italia.

Jepang dan Inggris tengah merancang kerangka kerja sama energi yang mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, reaktor nuklir generasi baru, hingga teknologi fusi nuklir. Rencana ini akan dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Perdana Menteri Keir Starmer saat pertemuan di London pada akhir pekan ini, menurut sumber pemerintah Jepang.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa kedua negara ingin mempercepat transisi energi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Bagi Jepang, yang miskin sumber daya alam dan sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, diversifikasi energi menjadi prioritas setelah konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah pada akhir Februari lalu. Ketegangan di Selat Hormuz—jalur energi vital dunia—telah mengancam pasokan minyak mentah ke Negeri Sakura.
Selain energi, pertemuan puncak tersebut juga akan membahas kerja sama di bidang teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Kedua pemimpin dijadwalkan mengeluarkan pernyataan bersama tentang keamanan ekonomi, yang secara khusus menyoroti praktik pemaksaan ekonomi seperti pengendalian ekspor mineral kritis—sebuah isyarat yang secara tidak langsung menyasar China.
Dalam agenda pertemuan, Takaichi dan Starmer juga akan membahas proyek jet tempur generasi berikutnya yang melibatkan Italia, serta kerja sama di bidang industri pertahanan, keamanan siber, dan intelijen. Ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral Tokyo-London tidak lagi terbatas pada ekonomi, tetapi merambah ke ranah strategis dan militer.
Di sisi lain, isu Timur Tengah juga menjadi perhatian. Kedua pemimpin akan mendiskusikan cara memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz yang praktis tertutup akibat konflik. Inggris disebut-sebut memiliki gagasan untuk mengirimkan pasukan multinasional guna mengamankan jalur pelayaran—sebuah usulan yang kemungkinan akan dibahas dalam pertemuan tersebut.
Bagi Indonesia, kerja sama Jepang-Inggris ini patut dicermati. Sebagai negara dengan potensi angin lepas pantai yang besar, Indonesia bisa belajar dari pengalaman Inggris di Laut Utara. Selain itu, ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil juga mendorong perlunya diversifikasi serupa. Namun, tantangan pendanaan dan teknologi masih menjadi hambatan utama. Jika Jepang dan Inggris berhasil menekan biaya energi angin lepas pantai, bukan tidak mungkin teknologi ini akan lebih terjangkau bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Setelah bertemu Starmer, Takaichi dijadwalkan mengunjungi Italia untuk bertemu Perdana Menteri Giorgia Meloni pada Senin, sebelum menghadiri KTT G7 di Evian, Prancis, selama tiga hari. Pertemuan-pertemuan ini akan menjadi panggung bagi Jepang untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara Barat di tengah rivalitas dengan China dan ketidakstabilan global.