Di Balik Ranking FIFA: Sistem Elo, Bobot Laga, dan Nasib Tim-Tim di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- FIFA menggunakan sistem peringkat Elo sejak 2018, di mana poin dihitung berdasarkan bobot pertandingan dan kekuatan lawan, bukan sekadar jumlah kemenangan.
- Dari 48 peserta Piala Dunia 2026, 40 tim berada di peringkat 48 besar dunia, sementara Italia (12) dan Denmark (20) justru absen.
- Selandia Baru (85) menjadi tim dengan peringkat terendah, sedangkan tuan rumah bersama AS (16), Meksiko (15), dan Kanada (30) masih dalam jajaran 30 besar.

FIFA telah menggunakan sistem peringkat berbasis Elo sejak 2018 untuk menentukan kekuatan tim nasional sepak bola pria—sebuah metode yang awalnya populer di dunia catur dan kini menjadi acuan utama dalam penentuan unggulan turnamen, termasuk Piala Dunia 2026.
Dalam sistem ini, setiap pertandingan memiliki bobot yang berbeda. Semakin penting laga dan semakin kuat lawan yang dihadapi, semakin besar pula poin yang bisa diraih. Formula yang digunakan melibatkan koefisien kepentingan (I) yang berkisar antara 5 hingga 60, hasil pertandingan (W), dan ekspektasi hasil (We) yang dihitung berdasarkan selisih peringkat kedua tim sebelum laga. Dengan kata lain, kemenangan atas tim papan atas di laga final Piala Dunia akan memberikan lonjakan poin yang jauh lebih besar dibanding menang di laga persahabatan melawan tim lemah.
Sejak diperkenalkan pada 1992, hanya delapan negara yang pernah menempati puncak peringkat FIFA: Prancis (saat ini pemuncak), Argentina, Belgia, Brasil, Jerman, Italia, Belanda, dan Spanyol. Inggris sendiri berada di peringkat keempat menjelang Piala Dunia 2026, posisi yang cukup stabil meski sempat tergusur oleh hasil-hasil mengecewakan di turnamen sebelumnya.
Menariknya, dari 48 tim yang lolos ke Piala Dunia 2026, sebanyak 40 tim berada dalam jajaran 48 besar peringkat FIFA. Ini menunjukkan bahwa secara umum, tim-tim yang tampil di putaran final memang layak secara peringkat. Namun, ada dua anomali: Italia (peringkat 12) dan Denmark (peringkat 20) justru gagal lolos, membuktikan bahwa peringkat bukan jaminan kelolosan. Di sisi lain, Selandia Baru (peringkat 85) menjadi tim dengan peringkat terendah di antara peserta, disusul debutan Curacao (82) dan Haiti (83).
Bagi Indonesia, sistem peringkat FIFA ini memiliki implikasi langsung. Timnas Garuda yang saat ini berada di peringkat 134 dunia harus bekerja keras untuk naik kelas. Setiap laga resmi—terutama di Kualifikasi Piala Dunia atau Piala Asia—memberikan peluang poin yang lebih besar dibanding laga uji coba. Dengan bobot pertandingan yang tepat, kemenangan atas tim di atas peringkat 100 bisa mendongkrak posisi Indonesia secara signifikan. Namun, konsistensi tetap menjadi tantangan utama, mengingat sistem Elo menghukum kekalahan telak atau hasil buruk di laga penting dengan pengurangan poin yang besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah peringkat FIFA tetap menjadi tolok ukur utama kekuatan tim, atau justru akan ada reformasi sistem? Sejumlah kritik menilai bahwa metode Elo masih belum sempurna karena tidak sepenuhnya mencerminkan performa di turnamen besar. Namun, bagi tim-tim seperti Indonesia, memahami mekanisme ini adalah langkah awal untuk merancang strategi jangka panjang demi menembus jajaran elite sepak bola dunia.


