Bendera Singa dan Matahari Dilarang di Piala Dunia, Simbol Perlawanan Iran Kembali Memanas
Baca dalam 60 detik
- FIFA melarang bendera pra-revolusi Iran, Lion and Sun, di stadion Piala Dunia karena dianggap simbol politik.
- Komunitas diaspora Iran di Los Angeles mengkritik larangan tersebut, menyebutnya sebagai bentuk sensor di negara yang menjunjung kebebasan berekspresi.
- Pertandingan Iran di Piala Dunia 2026 menjadi ajang tarik-menarik antara politik dan olahraga, dengan protes dan dukungan yang terpolarisasi.

FIFA secara resmi melarang pengibaran bendera Lion and Sun—simbol Iran sebelum Revolusi Islam 1979—di dalam stadion selama Piala Dunia 2026, memicu perdebatan sengit di kalangan diaspora Iran di Amerika Serikat. Keputusan ini diambil setelah Federasi Sepak Bola Iran (IFF) dilaporkan mensyaratkan penghormatan terhadap bendera resmi Republik Islam sebagai syarat partisipasi timnas.
Di luar Stadion SoFi, Los Angeles, tempat Iran akan menghadapi Selandia Baru pada 15 Juni, para pengunjuk rasa berkumpul mengibarkan bendera Lion and Sun. Bagi mereka, bendera itu bukan sekadar kain, melainkan simbol perlawanan terhadap rezim yang dituduh menindas kebebasan. Arezo Rashidian, salah satu pengorganisir protes, menegaskan bahwa bendera tersebut adalah "bendera asli Iran" dan aksi mereka adalah bentuk solidaritas terhadap rakyat Iran yang tertindas.
Larangan FIFA ini menuai kritik dari aktivis Iran-Amerika seperti Roozbeh Farahanipour, yang menyebutnya sebagai intervensi berlebihan. "Kami berada di Amerika Serikat, negara yang menjamin kebebasan berependapat. FIFA seharusnya tidak menghalangi ekspresi warga," ujarnya. Farahanipour, yang melarikan diri dari Iran pada 2000 setelah bertahun-tahun aktif dalam politik, memiliki luka pribadi yang mendalam: ibunya, sepupu, dan teman-temannya tewas dalam kekerasan rezim.
Ketegangan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas. Piala Dunia 2026 berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Iran, AS, dan Israel, serta gelombang protes domestik di Iran yang pecah pada awal tahun. Para pengunjuk rasa di Los Angeles menuduh Republik Islam menggunakan sepak bola sebagai alat propaganda untuk melegitimasi kekuasaannya di luar negeri, sementara menindas perbedaan pendapat di dalam negeri. Mereka membawa plakat bertuliskan "Shame on FIFA" sebagai bentuk protes terhadap larangan bendera.
Di sisi lain, para pemain Tim Melli berulang kali meminta agar politik tidak dicampurkan ke dalam sepak bola. Namun, bagi banyak pengunjuk rasa, pemisahan itu mustahil dilakukan. Tannaz Parsi, seorang pengunjuk rasa lainnya, mengaku emosional saat mengatakan, "Saya berharap bisa memisahkan mereka, tetapi mereka (pemain) justru bergandengan tangan dengan Republik Islam." Farahanipour menambahkan bahwa ia menghormati pemain sebagai individu, tetapi ketika mereka mengenakan seragam tim, mereka dianggap mewakili rezim.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat betapa rentannya olahraga disusupi kepentingan politik. Di dalam negeri, isu serupa pernah muncul ketika tim nasional sepak bola dihadapkan pada tekanan politik, seperti saat kualifikasi Piala Dunia lalu. Pengalaman Iran menunjukkan bahwa ketika identitas nasional dan simbol politik bercampur, stadion bisa berubah menjadi panggung perlawanan. Pertanyaan yang muncul: akankah FIFA konsisten menerapkan aturan serupa untuk negara lain, atau hanya berlaku selektif?


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7433656/original/009763500_1780210297-1000335518.jpg)