Yen Terus Melemah, Jepang Siapkan Intervensi Baru: Ada Dampak ke Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan tegas terhadap pelemahan yen yang mendekati level 160 per dolar AS.
- Jepang telah menghabiskan rekor 11,73 triliun yen (sekitar $73 miliar) untuk intervensi pasar mata uang pada periode April-Mei 2024, namun tekanan terhadap yen kembali meningkat.
- Pelemahan yen berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal di Indonesia, mengingat Jepang adalah mitra dagang dan investor utama di kawasan.

Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, kembali menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengambil langkah tegas guna menahan laju depresiasi yen yang terus mendekati titik kritis. Pernyataan itu disampaikan saat nilai tukar yen bergerak di kisaran rendah 160 per dolar AS, level yang sebelumnya memicu intervensi besar-besaran otoritas moneter Negeri Sakura.
"Dalam situasi seperti ini, tidak ada perubahan pada kenyataan bahwa kami semakin berada dalam posisi untuk mengambil tindakan tegas," ujar Katayama kepada awak media di Tokyo, Selasa (9/6). Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran pasar bahwa yen bisa kembali merosot ke titik terendah dalam setahun terakhir.
Data Kementerian Keuangan Jepang menunjukkan bahwa otoritas setempat telah menggelontorkan dana sebesar 11,73 triliun yen (setara $73 miliar) untuk intervensi pasar valuta asing selama periode 28 April hingga 27 Mei. Jumlah tersebut merupakan rekor tertinggi dalam sejarah intervensi Jepang, meskipun rincian harian tidak diungkapkan ke publik. Sebelum aksi intervensi yang diduga terjadi beberapa kali antara 30 April dan awal Mei, yen sempat jatuh ke level 160,72 per dolar AS pada 30 April, level terlemah sejak Juli 2024.
Intervensi yang dilakukan sempat mendorong yen menguat ke kisaran 155 terhadap dolar AS. Namun, tekanan jual terhadap yen kembali muncul seiring dengan aksi safe haven yang mendorong penguatan dolar AS, dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat yen kehilangan pijakan secara bertahap, mendekati level yang memicu intervensi sebelumnya.
Bagi Indonesia, pelemahan yen yang berkepanjangan membawa implikasi ganda. Di satu sisi, depresiasi yen dapat menekan daya saing ekspor Indonesia ke Jepang karena harga produk Indonesia menjadi relatif lebih mahal. Di sisi lain, aliran investasi Jepang ke Indonesia—yang selama ini menjadi salah satu sumber utama penanaman modal asing—berpotensi melambat jika ketidakpastian nilai tukar membuat perencanaan bisnis investor Jepang terganggu. Bank Indonesia pun perlu mencermati pergerakan yen sebagai salah satu mata uang utama di kawasan yang dapat mempengaruhi stabilitas rupiah.
Para analis memperkirakan bahwa Jepang tidak akan segan-segan melakukan intervensi lagi jika yen menembus level 160 secara konsisten. Namun, efektivitas intervensi jangka pendek masih dipertanyakan mengingat fundamental ekonomi Jepang yang berbeda dengan AS, terutama perbedaan suku bunga yang lebar. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah intervensi kali ini mampu menahan laju depresiasi yen, atau justru hanya menjadi plester sementara sebelum tekanan pasar kembali menguat?


