IHSG Ambruk 4,5% ke 5.342, Koreksi Tahun Ini Tembus 41%
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) jatuh 4,52% ke 5.342,14 pada Senin (8/6), memperpanjang tren koreksi sejak tiga bulan terakhir.
- Pelemahan tahun berjalan mencapai 38%, sementara dari puncak Januari 2026 indeks telah terkoreksi 41,51% akibat tekanan jual masif dan ketidakpastian geopolitik.
- Konflik Iran-Israel yang kembali memanas serta penguatan dolar AS menjadi pemicu utama aksi jual, mengancam stabilitas rupiah dan arus modal asing ke Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan jual yang tak terbendung pada perdagangan Senin (8/6/2026), ditutup ambrol 4,52% ke level 5.342,14โsempat menyentuh titik terendah intraday di 5.317,91. Koreksi ini menjadikan pelemahan IHSG sejak awal tahun menembus 38%, sementara dari posisi tertinggi pada 20 Januari 2026, indeks telah anjlok hingga 41,51%.
Aksi jual terjadi secara masif di hampir seluruh sektor. Sebanyak 661 saham melemah, hanya 78 saham menguat, dan 78 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 21,73 triliun dengan volume 32,52 miliar saham serta frekuensi 2,22 juta kali. Sektor kesehatan, teknologi, dan konsumer non-primer menjadi yang paling tertekan. Emiten pemberat utama antara lain TLKM, BBRI, dan BBCA.
Pasar keuangan Indonesia kini dihadapkan pada kombinasi risiko eksternal dan internal. Dari luar negeri, ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke Israel pada Minggu (7/6/2026), untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata April lalu. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menuding blokade laut AS dan serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran kesepakatan, dan menyatakan pangkalan AS serta aset Israel di kawasan menjadi target sah. Presiden AS Donald Trump menyebut aksi Iran tidak akan membantu negosiasi dan dikabarkan akan mendorong Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan gencatan senjata hanya berlaku jika konflik dihentikan di seluruh front, termasuk Lebanon. Iran memperingatkan respons yang lebih luas jika serangan berlanjut. Situasi ini mengancam upaya perdamaian yang rapuh dan mendorong harga energi tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara berkembang.
Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA pada Jumat (5/6/2026) menyatakan realisasi APBN hingga Mei 2026 menunjukkan tren positif. Defisit APBN tercatat Rp 180,4 triliun atau 0,70% dari PDB, sedikit meningkat dari Rp 164,4 triliun (0,64% PDB) pada April. Menkeu menegaskan posisi defisit masih terjaga dan sesuai desain APBN 2026, dengan pembiayaan yang prudent dan fleksibel. Namun, investor tetap mencermati ketahanan fiskal di tengah gejolak perang yang berpotensi membengkakkan biaya energi dan subsidi.
Tekanan tambahan datang dari penguatan indeks dolar AS yang kembali ke level 100,069โtertinggi sejak akhir Maret 2026. Penguatan dolar ini memicu aksi jual aset di emerging market, termasuk Indonesia. Dalam sepekan terakhir, rupiah ambrol hingga Rp 18.000 per dolar AS. Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh eskalasi geopolitik Timur Tengah yang menghambat prospek damai, mendorong harga minyak tinggi, serta meningkatkan risiko inflasi global dan arus dana keluar. Selain itu, kebutuhan dolar domestik masih besar seiring repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.
Ke depan, pasar akan terus mencermati perkembangan konflik Iran-Israel dan respons kebijakan fiskal serta moneter dalam negeri. Pertanyaan besarnya: mampukah pemerintah menjaga defisit tetap terkendali di tengah potensi kenaikan belanja energi, atau tekanan eksternal akan semakin memperburuk sentimen investor?



