Afreximbank Kucurkan Rp1.300 Triliun ke Nigeria, Lagos Jadi Pusat Dagang Afrika
Baca dalam 60 detik
- Afreximbank telah menggelontorkan dana sebesar 83 miliar dolar AS ke Nigeria sejak berdiri, dengan porsi besar untuk proyek di Lagos.
- Lagos terpilih menjadi tuan rumah Intra-African Trade Fair berikutnya, memperkuat posisinya sebagai gerbang perdagangan Afrika.
- Investasi infrastruktur dan kawasan industri diharapkan mendorong industrialisasi serta integrasi ekonomi di bawah AfCFTA.

African Export–Import Bank (Afreximbank) telah mengucurkan dana sebesar 83 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp1.300 triliun ke Nigeria sejak lembaga itu berdiri, dengan porsi signifikan dialokasikan untuk proyek-proyek di Lagos. Komitmen ini diumumkan dalam gelaran Invest Lagos 3.0 Summit yang berlangsung pekan ini, menegaskan posisi kota terbesar di Nigeria itu sebagai pintu gerbang utama perdagangan dan investasi di Afrika.
Wakil Presiden Eksekutif Afreximbank, Kanayo Awani, yang diwakili oleh Direktur Fasilitasi Perdagangan dan Promosi Investasi, Gainmore Zanamwe, menyatakan bahwa banknya tidak ragu mendukung penunjukan Lagos sebagai tuan rumah Intra-African Trade Fair (IATF) mendatang. Menurutnya, pameran dagang antarnegara Afrika itu diproyeksikan mampu menarik transaksi perdagangan dan investasi berskala besar lintas benua.
“Kami tidak perlu berpikir dua kali,” ujar Awani dalam sambutannya di summit bertema “Lagos Business Gateway to Africa”. Ia menambahkan bahwa Afreximbank telah mengembangkan kawasan industri dan zona ekonomi khusus untuk mengurangi hambatan investasi, termasuk penyediaan infrastruktur jalan, listrik, dan transportasi. Proyek serupa di Benin dan Gabon, kata dia, telah membuktikan bagaimana investasi industri dapat mendorong nilai tambah lokal dan menciptakan lapangan kerja.
Sekretaris Jenderal AfCFTA, Wamkele Mene, menegaskan bahwa Lagos memiliki posisi strategis dalam perdagangan dan industrialisasi Afrika. Ia mengungkapkan bahwa Nigeria kini menjadikan Afrika sebagai tujuan ekspor terbesarnya, sebuah capaian yang menunjukkan manfaat integrasi ekonomi kawasan. Mene juga mengonfirmasi bahwa Lagos akan menjadi tuan rumah IATF berikutnya, yang diharapkan memicu kesepakatan dagang dan investasi bernilai besar.
Dukungan juga datang dari Sekretaris Jenderal Persemakmuran, Shirley Botchwey, yang menyebut Lagos sebagai mesin komersial, pusat logistik, dan kekuatan budaya yang mencerminkan potensi ekonomi Afrika. “Lagos bukan sekadar kota yang penuh potensi. Ini adalah kota bukti,” ujarnya. Ia mendorong pemerintah dan pelaku bisnis untuk menerjemahkan peluang menjadi lapangan kerja, infrastruktur, inovasi, dan pertumbuhan inklusif.
Menteri Penerbangan dan Pengembangan Dirgantara Nigeria, Festus Keyamo, menambahkan bahwa Lagos tetap menjadi gerbang penerbangan utama Nigeria, menangani 67% lalu lintas penumpang internasional. Pemerintah federal, kata Keyamo, tengah menginvestasikan 500 juta dolar AS untuk memodernisasi Bandara Internasional Murtala Muhammed dan berencana memperpanjang jalur kereta api menuju bandara bekerja sama dengan pemerintah negara bagian Lagos. “Lagos sudah siap untuk langkah besar berikutnya,” tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Investasi besar-besaran di infrastruktur dan kawasan industri, serta pemanfaatan perjanjian dagang regional seperti AfCFTA, dapat menjadi model bagi upaya Indonesia mendorong ekspor dan integrasi ekonomi di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN. Keberhasilan Lagos menarik modal global dan menjadi hub perdagangan menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Lagos mampu mempertahankan momentum ini di tengah tantangan infrastruktur dan birokrasi yang masih membayangi Nigeria. Namun, dengan komitmen Afreximbank dan dukungan para pemangku kepentingan, kota ini berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan ambisinya sebagai pusat bisnis dan investasi utama Afrika.



