Monaco Grand Prix: Dari Fangio ke Leclerc, Sejarah Glamor yang Tak Tergantikan
Baca dalam 60 detik
- Monaco Grand Prix telah menjadi ikon F1 sejak 1950, dengan momen-momen legendaris dari Fangio hingga Leclerc.
- Balapan ini terkenal dengan tantangan sirkuit jalan raya dan kedekatannya dengan para selebritas serta keluarga kerajaan.
- Kemenangan perdana Charles Leclerc di kandang sendiri pada 2024 menjadi puncak baru dalam sejarah panjang Monaco.

Formula 1 telah menggelar balapan di jalan-jalan sempit Monako sejak musim perdana kejuaraan dunia pada 1950, dan hingga kini ajang itu tetap menjadi yang paling glamor dalam kalender. Menjelang edisi 2025 yang berlangsung pada 5-7 Juni, LyndHub merangkum momen-momen ikonik yang terabadikan dalam foto-foto klasik Grand Prix Monako.
Sejarah panjang Monako dimulai dengan dominasi Juan Manuel Fangio, yang memenangi balapan pertama pada 1950 dengan Alfa Romeo-nya. Sang juara dunia lima kali itu kemudian menjadi legenda awal F1. Pada era 1960-an, Graham Hill tampil sebagai penguasa Monako dengan lima kemenangan, sehingga dijuluki "Mr. Monaco". Momen kemenangan pertamanya pada 1963 dirayakan dengan dikerumuni ribuan penggemar, sebuah gambaran betapa balapan ini sudah menjadi milik publik.
Era 1970-an dan 1980-an menghadirkan rivalitas sengit, seperti persaingan Niki Lauda dan James Hunt yang diabadikan dalam film Rush (2013). Salah satu gambar paling dramatis adalah kecelakaan Nigel Mansell pada 1984, saat mobil Lotus-nya terparkir di tepi jalan dengan sayap belakang patah setelah keluar lintasan dalam kondisi basah. Pada tahun yang sama, Ayrton Senna menunjukkan kehebatannya di lintasan basah dengan naik dari posisi 13 ke posisi 2 sebelum balapan dihentikan karena kondisi berbahaya.
Senna kemudian menjadi pembalap paling sukses di Monako dengan enam kemenangan, termasuk kemenangan epik pada 1992 saat ia bertahan dari tekanan mobil Williams milik Nigel Mansell yang lebih cepat. Namun, kegagalan juga menghampiri Senna: pada 1988, ia kehilangan kemenangan setelah kecelakaan saat memimpin hingga 50 detik. Ia begitu frustrasi hingga langsung berjalan ke apartemennya tanpa berbicara dengan tim.
Memasuki era 2000-an, kontroversi mewarnai Monako. Pada 2006, Michael Schumacher sengaja memarkir mobil Ferrarinya di tikungan La Rascasse saat kualifikasi, menghalangi Fernando Alonso untuk mencetak waktu terbaik. Akibatnya, Schumacher kehilangan pole position dan harus start dari posisi paling belakang. Alonso pun memanfaatkan situasi itu untuk meraih kemenangan pertamanya di Monako. Dua puluh tahun kemudian, Alonso yang kini berusia 45 tahun masih bertahan dan akan memulai start ke-431 di F1 pada akhir pekan ini.
Monako juga tak lepas dari gemerlap selebritas. Pada 1998, aktor Sylvester Stallone terlibat aksi shadow boxing dengan Michael Schumacher di paddock. Sementara itu, tradisi perayaan kemenangan sering kali spektakuler: Mark Webber terjun ke kolam renang bersama tim Red Bull pada 2012, dan Charles Leclerc menceburkan diri ke pelabuhan setelah memenangi balapan kandang pada 2024.
Bagi Indonesia, Monako mungkin terasa jauh, namun balapan ini selalu menjadi tontonan yang dinanti karena menyajikan drama dan prestise yang tak tertandingi. Sirkuit jalan raya yang sempit dan tanpa run-off area membuat setiap tikungan menjadi ujian nyali. Keberhasilan Leclerc pada 2024 menjadi inspirasi bahwa pembalap lokal pun bisa menaklukkan sirkuit tersulit di dunia. Akankah tahun ini lahir lagi kejutan baru? Semua mata akan tertuju ke Monte Carlo.


