Hasto Bongkar Makna Simbolik Tokoh Prakasa Kitabuming dalam Film Joko Anwar
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengupas simbolisme di balik karakter Prakasa Kitabuming dalam film 'Ghost in the Cell' garapan Joko Anwar.
- Ia menyoroti nomor registrasi tahanan 21061961 dan asal Solo yang dinilai sarat kritik sosial terhadap pengusaha korup.
- Film ini dinilai merefleksikan semangat anti-kapitalisme Bung Karno yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengomentari film terbaru Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell. Ia menyoroti tokoh fiktif bernama Prakasa Kitabuming yang digambarkan sebagai narapidana korupsi asal Solo. Menurut Hasto, karakter tersebut sarat dengan simbolisme yang menyindir realitas sosial-politik Indonesia.
Dalam film yang dirilis pada 2025 itu, Prakasa Kitabuming adalah seorang pengusaha yang terlibat kasus penggundulan hutan dan korupsi. Meski mendekam di penjara, ia tetap hidup mewah. Hasto menilai Joko Anwar secara cerdas menyematkan pesan melalui detail nama, asal, dan nomor registrasi tahanan karakter tersebut. "Nomor registrasinya 21061961. Ini sangat simbolik," ujar Hasto usai pemutaran film di Jakarta Pusat, Minggu (7/6).
Hasto menjelaskan, nomor 21061961 bukan sekadar angka acak. Ia mengaitkannya dengan tanggal kelahiran Bung Karno, 6 Juni 1901, yang ditulis dalam format tanggal-bulan-tahun. "Ini mengingatkan kita pada nilai-nilai perjuangan Bung Karno melawan kapitalisme dan imperialisme," katanya. Menurutnya, film ini menjadi kritik terhadap praktik korupsi yang masih merajalela dan ketimpangan sosial yang kian tajam.
Lebih lanjut, Hasto menilai Ghost in the Cell merefleksikan semangat perlawanan yang pernah diperjuangkan Bung Karno. Ia menyebut kapitalisme dan imperialisme terus menjelma dalam bentuk baru, sehingga film seperti ini penting untuk membangkitkan kesadaran publik. "Indonesia tidak boleh terjadi sebagaimana yang ditunjukkan di dalam film ini," tegasnya.
Kepala Badan Kebudayaan Nasional PDIP, Once Mekel, menambahkan bahwa pemutaran film ini adalah bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa sekaligus upaya menjaga api semangat Bung Karno. "Bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi kita menjaga ide gagasannya yang tidak akan pernah mati," ujar Once. Peringatan Bulan Bung Karno pada Juni ini menjadi momentum refleksi bagi kader dan masyarakat.
Film Ghost in the Cell sendiri telah menuai beragam tanggapan. Kritikus film memuji keberanian Joko Anwar mengangkat isu korupsi dan kerusakan lingkungan melalui medium horor-thriller. Namun, sebagian pihak menilai simbolisme yang terlalu gamblang mengurangi estetika naratif. Terlepas dari pro-kontra, film ini berhasil memicu diskusi publik tentang moralitas dan keadilan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kritik sosial dalam film mampu mendorong perubahan nyata. Akankah pesan-pesan simbolik seperti yang diurai Hasto menggugah kesadaran kolektif untuk memberantas korupsi? Atau justru tenggelam dalam hiruk-pikuk industri hiburan? Hanya waktu yang akan menjawab.



