Peter Phillips dan Harriet Sperling: Bunga Pernikahan yang Menghormati Ratu Elizabeth
Baca dalam 60 detik
- Peter Phillips, cucu Ratu Elizabeth II, menggunakan bunga lily of the valley favorit sang nenek dalam pernikahannya sebagai penghormatan.
- Pernikahan di Gloucester ini mengusung tema ramah lingkungan dengan 90% bunga lokal dari radius 12 mil.
- Tradisi bunga myrtle dari pernikahan kerajaan 1947 kembali dihidupkan, menandai kontinuitas simbol kerajaan.

Peter Phillips, cucu mendiang Ratu Elizabeth II, dan Harriet Sperling menggelar pernikahan di Gereja All Saints, Kemble, Gloucester pada Sabtu (6/6/2026) dengan sentuhan personal yang mendalam: rangkaian bunga lily of the valley, bunga favorit sang ratu, menjadi pusat dekorasi pernikahan mereka.
Bunga lily of the valley, yang tumbuh di halaman Istana Buckingham, bukan sekadar hiasan. Bunga ini pernah menjadi bagian dari buket pernikahan Ratu Elizabeth dengan Pangeran Philip pada 1947 dan juga buket penobatannya pada 1954. Keputusan Peter dan Harriet untuk menyertakan bunga tersebut merupakan penghormatan simbolis yang kuat kepada mendiang ratu, sekaligus menjaga tradisi kerajaan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Menurut desainer bunga Millie Richardson, pemilihan lily of the valley memang sengaja dilakukan untuk nuansa kerajaan. โLily of the valley jelas diminta karena konotasi kerajaannya. Myrtle adalah simbol kecantikan, keanggunan, dan cinta, dan diminta atas dasar yang sama. Bunga itu selalu ada di setiap buket pernikahan kerajaan,โ ujarnya kepada Daily Telegraph.
Pernikahan ini juga dihadiri oleh Savannah (15) dan Isla (14), putri Peter dari pernikahan sebelumnya dengan Autumn Kelly, serta Georgina (13), putri Harriet dari mantan suaminya Antonio St John Sperling. Mereka bertugas sebagai pengiring pengantin dengan rangkaian bunga yang serasi: mawar semprot kecil di buket, serta nigella biru pucat yang disesuaikan dengan korsase Peter.
Yang menarik, pernikahan ini mengusung kesadaran lingkungan yang tinggi. Peter dan Harriet sangat memperhatikan aspek keberlanjutan, sehingga sebagian besar bunga yang digunakan ditanam secara lokal di Inggris. โMereka sadar akan keberlanjutan, banyak bunga yang ditanam di Inggris dan berbasis di Inggris. Mereka sangat peduli dari mana bunga itu berasal, yang merupakan fokus penting dari Raja Charles,โ jelas Millie.
Bahkan, mayoritas dedaunan dan bunga didatangkan dari jarak kurang dari 12 mil. Konsep ini, menurut Millie, ingin menunjukkan ritme musim dan memastikan desain dibuat berdasarkan apa yang tersedia secara alami. โIni tentang menyeimbangkan penggunaan bahan musiman dan bunga agar rangkaian terasa menjadi bagian dari momen, dirancang dengan pemikiran dan presisi untuk membuatnya pantas bagi acara kerajaan yang penting,โ tambahnya.
Rangkaian bunga yang digunakan meliputi mawar, foxglove, apricot Sudden, honeysuckle, melati, bunga jeruk, forget-me-not, corncockle, dan peony. Semua tanaman dan pohon hias akan ditanam kembali setelah pernikahan, bukan dibuang begitu saja. โBunga dan pohon ini bersumber secara lokal dan akan ditanam sehingga mereka hidup setelah pernikahan โ ini bukan entitas tunggal,โ tegas Millie.
Bagi pembaca di Indonesia, pernikahan ini mengingatkan pada tradisi kerajaan yang kaya akan simbolisme dan keberlanjutan. Di tengah maraknya pernikahan mewah yang seringkali boros, pendekatan Peter dan Harriet bisa menjadi inspirasi: menghormati leluhur, menjaga lingkungan, dan tetap elegan. Pertanyaannya, akankah tren pernikahan ramah lingkungan seperti ini diadopsi lebih luas di Indonesia, terutama di kalangan publik figur?



