Skandal Pribadi Menerpa: David Sullivan Mundur dari Kursi Ketua Bersama West Ham
Baca dalam 60 detik
- David Sullivan mengundurkan diri sebagai ketua bersama West Ham menyusul investigasi BBC dan The Times atas tuduhan perilaku tidak pantas di masa lalu.
- Pria 77 tahun itu membantah keras tuduhan yang disebutnya 'salah secara faktual' dan berencana menggugat balik media yang memberitakan.
- Langkah ini terjadi di tengah tekanan suporter dan degradasi West Ham dari Premier League, menambah ketidakpastian masa depan klub.

David Sullivan, pemilik sekaligus ketua bersama West Ham United, memutuskan mundur dari jabatannya dengan efek segera setelah investigasi bersama BBC Panorama dan harian The Times mengungkap tuduhan serius terhadap dirinya. Langkah ini diambil di tengah tekanan publik dan situasi klub yang sedang terpuruk usai degradasi dari Premier League.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Minggu (28/7), Sullivan yang telah menjabat selama 16 tahun itu menyebut tuduhan tersebut sebagai 'klaim tidak pantas' yang sudah berusia puluhan tahun dan sama sekali tidak benar. Ia menegaskan akan menggunakan seluruh energinya untuk melawan tuduhan yang dinilainya fitnah, termasuk dengan menggugat BBC dan media lain yang menyebarluaskan berita tersebut.
West Ham dalam pernyataan terpisah mengonfirmasi bahwa tuduhan tersebut tidak berkaitan dengan operasional klub. Klub juga menunjuk Karim Virani sebagai CEO sementara untuk memimpin kegiatan sehari-hari, sementara struktur dewan direksi akan diumumkan kemudian. Langkah Sullivan disebutnya sebagai upaya menghindari gangguan di saat klub sedang menghadapi masa sulit.
Keputusan Sullivan ini menambah daftar panjang gejolak di tubuh West Ham. Musim lalu, suporter berulang kali menggelar protes menuntut Sullivan dan Baroness Brady mundur. Brady sendiri telah meninggalkan posisi wakil ketua pada 15 April lalu. Kini, dengan kepergian Sullivan, klub kehilangan dua figur sentral dalam waktu singkat.
Di bawah kepemimpinan Sullivan dan Gold sejak 2010, West Ham memang mencatat sejumlah pencapaian, seperti pindah ke London Stadium pada 2016 dan menjuarai Conference League pada 2023βtrofi pertama sejak Piala FA 1980. Namun, performa klub di Premier League cenderung inkonsisten, dengan finis di papan bawah dalam tiga dari empat musim terakhir sebelum akhirnya terdegradasi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa tekanan di luar lapangan bisa berdampak besar pada stabilitas klub, terutama ketika pemilik terlibat kontroversi pribadi. Di tengah maraknya investasi asing di sepak bola Eropa, transparansi dan tata kelola yang baik menjadi isu krusial yang juga relevan dengan perkembangan sepak bola nasional.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah siapa yang akan mengambil alih kendali West Ham. Dengan Sullivan masih menjadi pemegang saham terbesar, masa depan klub masih bergantung pada langkah hukum dan negosiasi internal. Akankah West Ham mampu bangkit dari keterpurukan, atau justru semakin terjerembab dalam krisis?



