Final Roland Garros 2025: Antara Remaja Prodigi dan Petualang Kualifikasi
Baca dalam 60 detik
- Mirra Andreeva, 19 tahun, menjadi finalis termuda ketiga di Prancis Terbuka abad ini dan berpeluang mengulang sukses Monica Seles 1992.
- Maja Chwalinska, petenis peringkat 114 yang lolos kualifikasi, mengalahkan Zheng Qinwen dan Maria Sakkari dalam perjalanan tak terduganya.
- Chwalinska sempat depresi dan vakum pada 2021, kini bersiap menghadapi Andreeva di lapangan utama dengan dukungan sponsor dari Polandia.

Pertemuan antara Mirra Andreeva dan Maja Chwalinska di final Prancis Terbuka 2025 bukan sekadar perebutan gelar Grand Slam, melainkan benturan dua narasi yang saling bertolak belakang: satu sisi menawarkan kisah remaja yang diproyeksikan menjadi juara sejak usia 15 tahun, sisi lain menghadirkan perjuangan seorang pemain kualifikasi yang nyaris bangkrut dan sempat kehilangan harapan.
Andreeva, unggulan kedelapan asal Rusia, memasuki partai puncak dengan status sebagai salah satu talenta paling bersinar di sirkuit WTA. Pada usia 19 tahun, ia sudah mengoleksi dua gelar WTA 1000 dan menembus lima besar dunia. Pelatihnya, Conchita Martinez—mantan juara Wimbledon—mengakui bahwa potensi Andreeva sudah terlihat sejak awal kerja sama mereka. Namun, di balik prestasi itu, temperamen mudanya kerap menjadi sorotan. Aksi menyapu bola ke arah penonton dan ledakan emosi di perempat final tahun lalu menjadi pengingat bahwa ia masih remaja. Namun, ketenangannya saat mengalahkan Marta Kostyuk di semifinal menunjukkan kematangan yang kian terasah.
Di sisi lain, Chwalinska datang sebagai pemain kualifikasi dengan peringkat 114 dunia dan odds 500-1 di awal turnamen. Petenis Polandia berusia 24 tahun ini belum pernah sekalipun mendapat tiket langsung ke babak utama Grand Slam. Perjalanannya di Roland Garros tahun ini adalah buah dari ketekunan setelah melalui masa-masa kelam. Pada 2021, ia mengambil jeda tanpa batas waktu dari tenis karena depresi yang membuatnya tak mampu bangun dari tempat tidur. Empat bulan kemudian, ia kembali, namun harus merangkak dari turnamen-turnamen kecil di Italia.
Keberhasilan Chwalinska mengalahkan juara Olimpiade Zheng Qinwen dan mantan semifinalis Prancis Terbuka Maria Sakkari membuatnya menjadi ancaman nyata bagi rekor Emma Raducanu sebagai satu-satunya pemain kualifikasi yang memenangi Grand Slam. Jika ia mampu mengalahkan Andreeva, pencapaiannya akan sebanding dengan kejutan Raducanu di US Open 2021. Namun, kendala finansial sempat menghantuinya: setelah memenangi putaran kedua, Chwalinska khawatir tak mampu membayar hotel. Sebuah perusahaan Polandia yang juga mensponsori Iga Swiatek, teman masa kecilnya, akhirnya turun tangan menanggung biaya akomodasi.
Bagi publik tenis Indonesia, final ini memberikan dua pelajaran berharga. Pertama, pentingnya pembinaan usia dini dan dukungan pelatih elite—seperti yang dialami Andreeva di bawah bimbingan Martinez. Kedua, kisah Chwalinska menjadi pengingat bahwa ketahanan mental dan dukungan finansial yang memadai sangat krusial, terutama di negara dengan ekosistem tenis yang masih berkembang. Di Indonesia, banyak petenis muda berbakat yang terhambat oleh biaya turnamen dan kurangnya sponsor, mirip dengan apa yang dialami Chwalinska sebelum akhirnya mendapat bantuan.
Chwalinska sendiri mengaku masih sulit mencerna perjalanannya. “Jangan berpura-pura ada yang menduga ini. Saya di luar 100 besar, sekarang di final Grand Slam. Sulit diproses,” ujarnya. Sementara Andreeva, yang tampil percaya diri, menyatakan bahwa ia semakin percaya pada arahan timnya. “Apa pun yang mereka katakan, akan saya lakukan,” ucapnya.
Pertandingan final yang akan digelar di Court Philippe Chatrier dengan 15.000 penonton langsung ini menjadi ujian bagi kedua pemain: mampukah Andreeva mengukuhkan statusnya sebagai pewaris tahta Monica Seles, atau Chwalinska akan menulis ulang sejarah sebagai kualifikasi paling tak terduga? Satu hal yang pasti, terlepas dari siapa yang menang, Roland Garros 2025 telah menyajikan drama yang layak dikenang.



