Virus Hentikan Langkah Arnaldi di Semifinal Prancis Terbuka: Rekan Satu Negeri Melaju ke Final
Baca dalam 60 detik
- Matteo Arnaldi mundur dari semifinal Grand Slam perdananya karena infeksi virus, membuat Flavio Cobolli melaju mulus ke partai puncak.
- Ini baru kali ketiga dalam sejarah era Open (sejak 1968) semifinal tunggal putra Grand Slam berakhir walkover, setelah Nadal (2021) dan Krajicek (1992).
- Cobolli akan menghadapi unggulan kedua Alexander Zverev di final, dengan tekanan besar meraih gelar mayor pertamanya.

Matteo Arnaldi, petenis Italia peringkat 104 dunia, harus merelakan kesempatan tampil di semifinal Grand Slam pertamanya setelah dinyatakan positif terinfeksi virus, Jumat (6/6) waktu setempat. Keputusan mundur diumumkan hanya 25 menit sebelum laga melawan rekan senegaranya, Flavio Cobolli, dijadwalkan dimulai di Lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros.
Arnaldi, 25 tahun, mengaku mengalami gejala pusing, muntah-muntah, dan tidak bisa makan atau minum sejak Kamis malam. "Setiap kali bangun, saya merasa pusing. Tidak mungkin saya bisa bermain," ujarnya dalam konferensi pers bersama Cobolli. Keduanya duduk berjauhan untuk menghindari penularan. Arnaldi meminta maaf kepada 15.000 penonton yang sudah memenuhi tribun, dan panitia memastikan pengembalian penuh harga tiket.
Kegagalan Arnaldi menjadi sorotan karena ia menghabiskan waktu 19 jam 42 menit di lapangan sepanjang turnamen โ rekor terlama sejak 1991 untuk seorang semifinalis Grand Slam. Perjalanan epiknya termasuk mengalahkan unggulan keempat Daniil Medvedev di perempat final. Namun, virus yang menyerang sistem pencernaannya memupus semua kerja keras itu.
Bagi Cobolli, 24 tahun, kejadian ini menjadi campuran emosi. "Saat dia datang menemuiku, aku hampir menangis," kata unggulan kesepuluh itu. Cobolli kemudian menggelar sesi latihan di lapangan utama untuk menghibur penonton yang tersisa. Kini ia harus bersiap menghadapi Alexander Zverev, unggulan kedua asal Jerman yang tengah dalam performa terbaiknya setelah mengalahkan Jakub Mensik di semifinal.
Dari sudut pandang tenis Indonesia, kejadian ini mengingatkan pada pentingnya manajemen kesehatan pemain di turnamen grand slam. Federasi Tenis Internasional (ITF) dan ATP telah memiliki protokol ketat, tetapi kasus Arnaldi menunjukkan bahwa faktor tak terduga tetap bisa mengubah peta persaingan. Bagi petenis Indonesia yang bermimpi menembus level grand slam, kondisi fisik dan daya tahan terhadap virus menjadi aspek krusial yang harus diperhatikan, terutama di tengah padatnya jadwal turnamen.
Pertanyaan kini mengemuka: mampukah Cobolli memanfaatkan momentum ini untuk meraih gelar mayor pertamanya? Atau justru tekanan tampil di final tanpa persiapan mental yang matang akan menjadi bumerang? Final Prancis Terbuka 2025 antara Cobolli dan Zverev akan menjadi ujian sejati bagi petenis Italia itu untuk membuktikan bahwa dirinya layak disebut sebagai calon juara baru.



