Rupiah Tembus Rekor Terlemah, Bank Jual Dolar di Rp18.415
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah pagi ini merosot ke Rp18.100 per dolar AS, level terendah sepanjang sejarah.
- Sejumlah bank nasional merespons dengan menaikkan harga jual dolar hingga di atas Rp18.400, menekan daya beli masyarakat.
- Pelemahan ini memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia dalam jangka pendek.

Rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang masa terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi, mendorong bank-bank nasional untuk menaikkan kurs jual valas hingga tembus Rp18.415 per dolar. Pukul 09.07 WIB, berdasarkan data Refinitif, mata uang Garuda terdepresiasi 0,50% ke level Rp18.100/US$, melanjutkan tren negatif yang berlangsung sejak pekan lalu.
Tekanan terhadap rupiah terjadi meski pada akhir pekan sebelumnya, Jumat (5/6/2026), kurs sempat menguat tipis 0,06% ke Rp18.010/US$. Namun, sentimen eksternal yang masih kuat—termasuk ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed dan ketidakpastian global—kembali menekan mata uang emerging market, termasuk Indonesia. Analis menilai bahwa capital outflow dari pasar obligasi dan saham domestik turut memperburuk posisi rupiah.
Respons perbankan pun cepat. Harga jual dolar AS di sejumlah bank besar sudah melampaui Rp18.100. Bahkan, bank asal Jepang yang beroperasi di Jakarta memasang kurs jual di level Rp18.415 per dolar pada pukul 09.27 WIB. Sementara itu, bank pelat merah seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI juga menaikkan harga jual di kisaran Rp18.150–Rp18.200. Bank swasta seperti BCA dan bank asing seperti HSBC serta CIMB Niaga turut menyesuaikan kurs di atas Rp18.100.
Kenaikan kurs jual ini berdampak langsung pada masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan dolar untuk transaksi impor, perjalanan, atau investasi. Biaya impor barang—dari bahan baku hingga barang konsumsi—dipastikan membengkak, berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Bagi investor, pelemahan rupiah yang terus-menerus menimbulkan kekhawatiran terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Menurut ekonom dari sebuah lembaga riset di Jakarta, situasi ini menguji kredibilitas kebijakan moneter Indonesia. “BI perlu mengintervensi pasar secara agresif, baik melalui operasi pasar terbuka maupun penggunaan instrumen devisa, untuk mencegah pelemahan lebih lanjut,” ujarnya. Namun, cadangan devisa yang terbatas menjadi kendala. Di sisi lain, pasar masih menunggu keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertemuan dewan gubernur pekan depan.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada data inflasi AS dan sikap The Fed. Jika dolar terus menguat, bukan tidak mungkin rupiah akan menguji level Rp18.200 atau lebih rendah lagi. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana BI bersedia mengorbankan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan, atau justru membiarkan rupiah mencari keseimbangan barunya?



