Sepatu Bata Masih Merugi Rp116 Miliar Setelah Tutup Pabrik dan Ratusan Toko
Baca dalam 60 detik
- PT Sepatu Bata Tbk mencatat rugi bersih Rp116,23 miliar pada 2025, meski sudah menutup pabrik dan lebih dari 200 gerai.
- Penjualan neto perusahaan ambles 35,2% menjadi Rp298,25 miliar, sementara defisiensi modal membengkak ke Rp131,65 miliar.
- Auditor menyoroti ketidakpastian going concern akibat liabilitas jangka pendek yang jauh melampaui aset lancar.

PT Sepatu Bata Tbk (BATA) masih terperosok dalam labirin kerugian meski telah menjalankan program restrukturisasi drastis sepanjang tahun lalu. Emiten alas kaki legendaris ini membukukan rugi bersih Rp116,23 miliar sepanjang 2025, hanya sedikit membaik dibanding rugi Rp147,97 miliar pada tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun lalu, manajemen BATA telah menutup lebih dari 200 gerai yang dinilai tidak produktif, menghentikan operasional pabrik dan gudang di Purwakarta, serta menggelar diskon besar-besaran untuk membersihkan stok lama. Total biaya restrukturisasi yang dibebankan pada 2024 mencapai Rp124,08 miliar. Namun, hasil dari langkah heroik itu belum tercermin di laporan keuangan 2025.
Penjualan neto BATA anjlok 35,2% menjadi Rp298,25 miliar dari sebelumnya Rp459,98 miliar. Laba bruto pun ikut tergerus menjadi Rp105,45 miliar dari Rp197,15 miliar. Rugi usaha tercatat Rp106,34 miliar, lebih rendah dibanding Rp145,05 miliar pada 2024, tetapi masih menganga lebar.
Kondisi neraca kian mengkhawatirkan. Total aset BATA menyusut menjadi Rp282,56 miliar dari Rp405,66 miliar. Defisiensi modal membengkak drastis menjadi Rp131,65 miliar, dari sebelumnya negatif Rp15,93 miliar. Artinya, utang perusahaan kini jauh melebihi ekuitas yang tersedia.
Dari sisi likuiditas, tekanan semakin nyata. Liabilitas jangka pendek mencapai Rp382,24 miliar, sementara aset lancar hanya Rp184,35 miliar. Ketimpangan ini mendorong auditor memberikan penekanan khusus pada ketidakpastian material atas kemampuan BATA mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern).
Meski demikian, ada secercah harapan dari arus kas operasi yang membaik. BATA mencatat arus kas operasi positif Rp37,57 miliar pada 2025, naik dari Rp16,08 miliar tahun sebelumnya. Namun, posisi kas akhir tahun tetap turun menjadi Rp29,88 miliar dari Rp53,62 miliar, menunjukkan bahwa perbaikan operasional belum cukup untuk menambal lubang keuangan.
Bagi investor dan pelaku pasar, kondisi BATA menjadi pengingat bahwa restrukturisasi tidak selalu membuahkan hasil instan. Perusahaan masih harus berjuang mengembalikan kepercayaan konsumen di tengah persaingan ketat industri alas kaki. Pertanyaan besarnya, apakah langkah efisiensi yang sudah dijalankan cukup untuk membawa BATA keluar dari jurang kebangkrutan, atau justru hanya menunda waktu?



