Ekspor Perikanan Jepang Tembus Rekor 423 Miliar Yen, Dorong Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Nilai ekspor produk perikanan Jepang pada 2025 mencapai 423,1 miliar yen, naik 17,2% secara tahunan, didorong oleh strategi pemerintah memperluas pasar luar negeri.
- Volume ekspor melonjak 42,9% menjadi 640.000 ton, dengan kerang simping sebagai komoditas unggulan, disusul ikan kuning dan mutiara.
- Konsumsi domestik per kapita yang terus menurun memaksa Jepang menggenjot ekspor, termasuk melalui pengembangan akuakultur dan bantuan finansial bagi pelaku industri.

Ekspor produk perikanan Jepang pada 2025 mencatat rekor tertinggi sebesar 423,1 miliar yen (sekitar Rp 42 triliun), naik 17,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini menjadi sinyal keberhasilan strategi Tokyo dalam mendorong konsumsi makanan laut Jepang di pasar global di tengah merosotnya permintaan domestik.
Berdasarkan Buku Putih Perikanan untuk tahun fiskal 2025 yang dirilis Jumat lalu, volume ekspor juga melesat 42,9 persen menjadi 640.000 ton. Pemerintah Jepang menyebutkan bahwa keberlanjutan industri perikanan sangat bergantung pada kemampuan merebut pangsa pasar pangan dunia melalui ekspor hasil laut secara masif.
Dari sisi komoditas, kerang simping (scallop) menjadi primadona ekspor berdasarkan nilai, disusul ikan kuning (yellowtail) dan mutiara. Hong Kong menjadi importir terbesar produk perikanan Jepang, sementara Amerika Serikat dan Vietnam menempati posisi kedua dan ketiga.
Penurunan konsumsi domestik menjadi pendorong utama perubahan strategi. Pada fiskal 2024, konsumsi ikan per kapita di Jepang hanya 21,3 kilogram, hampir separuh dari puncaknya pada 2001. Kondisi ini memaksa pemerintah mencari cara baru untuk mempromosikan ekspor perikanan. Pada 2025, misalnya, tiram dan produk olahannya, serta produk olahan kerang simping, resmi masuk dalam daftar prioritas ekspor bersama ikan kuning dan kakap merah.
Pemerintah Jepang juga memberikan dukungan finansial kepada pelaku industri serta bantuan teknis agar fasilitas pengolahan memenuhi standar higienitas negara tujuan ekspor. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas akses pasar, terutama di negara-negara dengan regulasi ketat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Buku putih tersebut juga menyoroti peran akuakultur sebagai tulang punggung masa depan industri perikanan. Kemampuannya menyediakan pasokan stabil dibandingkan tangkapan liar membuat budidaya ikan diprediksi memainkan peran krusial. Saat ini, sekitar 80 persen pasokan ikan kuning hasil budidaya global berasal dari Jepang, dan beberapa produknya telah diakui sebagai merek premium berkat teknologi siklus penuh yang mapan.
Menariknya, meskipun Jepang masih mengimpor sebagian besar salmon dan trout dari Chili dan Norwegia, pengembangan teknik budidaya untuk jenis ikan tersebut terus digencarkan dalam beberapa tahun terakhir. Laporan itu juga mencatat harapan besar terhadap akuakultur berbasis darat (land-based aquaculture) yang lebih tahan terhadap fluktuasi kondisi alam seperti suhu laut. Startup dan perusahaan besar mulai merambah sektor ini, menandai babak baru dalam industri perikanan Jepang.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sebagai salah satu negara maritim terbesar, Indonesia dapat belajar dari strategi Jepang dalam meningkatkan nilai tambah produk perikanan melalui budidaya dan standar ekspor. Namun, persaingan di pasar global juga semakin ketat, terutama untuk komoditas seperti udang dan tuna yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengadopsi pendekatan serupa untuk memperkuat daya saing produk perikanan di kancah internasional?



