Gelembung South Sea 1720: Kisah ‘Saham Gorengan’ Pertama yang Menghancurkan Newton
Baca dalam 60 detik
- South Sea Company, perusahaan Inggris abad ke-18, menjadi pelopor praktik ‘saham gorengan’ dengan menjanjikan monopoli perdagangan fiktif hingga harga sahamnya melambung tanpa fundamental.
- Ketika para petinggi menjual saham diam-diam dan kebenaran terungkap, harga ambruk, ribuan investor bangkrut—termasuk Isaac Newton yang kehilangan kekayaannya.
- Kasus ini mengajarkan bahwa euforia spekulatif dan kurangnya transparansi bisa mengulang tragedi serupa di pasar modern, termasuk di Indonesia yang rawan aksi pump-and-dump.

Lebih dari tiga abad sebelum istilah ‘saham gorengan’ populer di kalangan investor ritel Indonesia, sebuah perusahaan Inggris bernama South Sea Company telah menorehkan noda kelam dalam sejarah pasar modal dunia. Didirikan pada 1720, perusahaan ini menjadi pionir praktik manipulasi saham yang membuat ribuan orang kehilangan tabungan hidupnya, termasuk fisikawan legendaris Isaac Newton.
South Sea Company lahir dari kondisi keuangan Inggris yang kritis setelah perang panjang melawan kekuatan Eropa. Pemerintah saat itu menawarkan solusi: perusahaan akan mengambil alih utang negara yang membengkak sebagai imbalan hak monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan—yang saat itu di bawah kekuasaan Spanyol. Di atas kertas, prospeknya menggiurkan: emas, perak, rempah-rempah, dan perdagangan budak menjanjikan keuntungan luar biasa. Tak heran, saham perusahaan langsung menjadi primadona.
Euforia menjalar ke semua lapisan. Rakyat biasa, anggota parlemen, bangsawan, hingga Raja George I ikut membeli saham. Harga melonjak bukan karena kinerja, melainkan keyakinan bahwa akan selalu ada pembeli berikutnya—skema yang kini dikenal sebagai pump-and-dump. Namun, para petinggi perusahaan diam-diam menjual saham mereka. Mereka tahu bahwa wilayah Amerika Selatan tidak dikuasai Inggris, sehingga monopoli itu fiktif. Ketika investor mulai mempertanyakan sumber laba, kepercayaan runtuh. Kepanikan menyebar, harga saham jatuh bebas, dan pasar ambruk.
Dampaknya sangat dahsyat. Menurut catatan Royal Society Publishing, ribuan orang kehilangan seluruh tabungan. Banyak bangsawan dan pengusaha jatuh miskin dalam semalam. Isaac Newton, yang sempat meraih untung, kembali masuk saat harga puncak dan akhirnya menanggung kerugian besar. Ia kemudian berkata, “Saya mampu menghitung gerak benda langit, tetapi tidak kegilaan manusia.” Penyelidikan pemerintah mengungkap suap, konflik kepentingan, dan manipulasi yang melibatkan elite politik. Sejumlah pejabat dihukum, dan kepercayaan publik terhadap pasar modal hancur.
Bagi investor Indonesia, kisah South Sea Company relevan di tengah maraknya aksi pump-and-dump pada saham berkapitalisasi kecil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kerap memperingatkan risiko saham yang harganya naik drastis tanpa didukung kinerja. Namun, godaan keuntungan cepat tetap membuat investor ritel terjebak. Seperti halnya South Sea Company, skema semacam itu bergantung pada keyakinan irasional bahwa harga akan terus naik—hingga tiba-tiba ambruk.
Pelajaran dari 1720 masih relevan: fundamental bisnis dan transparansi adalah kunci. Tanpa keduanya, euforia hanya menunggu waktu untuk berubah menjadi bencana. Pertanyaannya, mampukah investor Indonesia belajar dari sejarah, atau akan terus mengulang kesalahan yang sama?



