Beruang Cerdik di Fukushima Kabur Setelah Buka Jendela Pabrik, Warga Diimbau Waspada
Baca dalam 60 detik
- Seekor beruang yang meneror pabrik elektronik di Fukushima berhasil melarikan diri setelah membuka sendiri jendela dan mematikan lampu perangkap.
- Hewan itu sebelumnya terlihat membuka keran air untuk minum, menunjukkan tingkat kecerdasan yang membuat petugas kewalahan.
- Insiden ini memperparah tren serangan beruang di Jepang yang mencapai rekor tertinggi pada 2023, dengan tujuh korban jiwa.

Seekor beruang yang bersembunyi di dalam pabrik elektronik di Fukushima, Jepang timur laut, berhasil lolos dari kepungan aparat setelah dengan cerdik membuka sendiri jendela dan kabur di malam hari. Hewan itu sebelumnya telah menyerang empat orang di pabrik baja terdekat, memicu operasi penangkapan yang berlangsung selama dua hari.
Menurut pejabat kota Fukushima, jejak yang ditinggalkan beruang menunjukkan bahwa ia melepas kait jendela dan mendorongnya terbuka. Sehari sebelum kabur, beruang itu juga terlihat membuka keran air menggunakan cakar depannya untuk minum. Wali Kota Fukushima, Yuki Baba, menyebutnya sebagai hewan yang sangat cerdas, seperti dikutip kantor berita Kyodo.
Upaya melumpuhkan beruang dengan anak panah bius gagal total. Perangkap makanan yang berisi buah dan madu juga tidak mempan—beruang mampu memakan umpannya tanpa terperangkap. Pada Rabu malam, petugas mematikan lampu pabrik untuk memancingnya masuk perangkap, tetapi beruang justru kabur melalui jendela yang diduga dibukanya sendiri.
Otoritas sempat mengizinkan tindakan penembakan, tetapi polisi mengurungkannya karena di dalam pabrik terdapat bahan mudah terbakar. Situasi ini memperlihatkan dilema antara keselamatan manusia dan risiko kebakaran. Kini, aparat Fukushima meluncurkan pencarian menggunakan drone, sementara sekolah-sekolah beralih ke kelas online untuk mengantisipasi kemunculan beruang kembali.
Fenomena serangan beruang di Jepang memang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, tujuh orang tewas akibat serangan beruang—angka tertinggi yang pernah tercatat. Serangan biasanya meningkat pada musim gugur, menjelang hibernasi, ketika beruang aktif mencari makanan. Bagi Indonesia, meski tidak memiliki populasi beruang liar yang mengancam, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen konflik satwa liar dan kesiapsiagaan darurat di kawasan industri yang berbatasan dengan habitat hewan.
Wali Kota Baba mengakui kegagalan operasi dengan nada menyesal: "Bukan berarti kami lalai, tetapi kami meninggalkan rasa penyesalan." Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah beruang cerdik itu kembali menyerang, atau justru menjadi simbol kegagalan pendekatan konvensional dalam menghadapi satwa liar yang semakin adaptif?



