KEPCO Rebut Kontrak Proyek Listrik Saudi Senilai Rp21 Triliun, Perkuat Dominasi di Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- KEPCO memenangkan tender fase kedua pembangkit listrik kogenerasi di proyek Jafurah, Arab Saudi, dengan nilai kontrak mencapai 2,1 triliun won atau sekitar 1,4 miliar dolar AS.
- Pembangkit berkapasitas 331 MW dan produksi uap 465 ton per jam ini akan beroperasi penuh pada Juni 2029, memasok listrik dan uap selama 17 tahun ke depan.
- Kemenangan ini menegaskan ekspansi KEPCO di pasar energi Saudi, sekaligus membuka peluang bagi kontraktor Indonesia yang ingin masuk rantai pasok proyek serupa.
Korea Electric Power Corp (KEPCO) memastikan langkah ekspansifnya di pasar energi Arab Saudi dengan memenangkan kontrak pembangunan dan pengoperasian fase kedua pembangkit listrik kogenerasi di proyek Jafurah. Perusahaan pelat merah Korea Selatan itu menargetkan pendapatan total mencapai 2,1 triliun won, setara dengan 1,4 miliar dolar AS, dari proyek strategis yang digarap bersama raksasa minyak Saudi Aramco.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (4/6), KEPCO mengungkapkan telah menandatangani perjanjian jual-beli listrik dan uap dengan Aramco, sekaligus menyelesaikan kontrak konstruksi dengan Doosan Enerbility. Proyek ini merupakan perluasan dari fase pertama pembangkit Jafurah berkekuatan 317 MW yang dimenangkan KEPCO melalui tender internasional pada 2022 dan ditargetkan rampung pada akhir Juni mendatang.
Fase kedua pembangkit kogenerasi ini dirancang memiliki kapasitas 331 megawatt (MW) dan mampu memproduksi uap sebanyak 465 metrik ton per jam. Proses konstruksi dijadwalkan selesai pada Juni 2029, setelah itu KEPCO akan memasok listrik dan uap ke fasilitas Aramco selama 17 tahun. Kogenerasi, yang memproduksi listrik dan panas secara simultan, menjadi teknologi andalan untuk efisiensi energi di kawasan industri migas.
Kemenangan ini semakin memperkuat posisi KEPCO sebagai pemain kunci di sektor kelistrikan Timur Tengah. Sebelumnya, perusahaan yang berbasis di Naju itu telah menggarap sejumlah proyek strategis di kawasan, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab. Bagi Saudi, proyek Jafurah menjadi bagian dari visi Vision 2030 untuk mendiversifikasi ekonomi dan mengoptimalkan sumber daya energi.
Bagi Indonesia, keberhasilan KEPCO menawarkan pelajaran sekaligus peluang. Dengan pengalaman puluhan tahun di sektor kelistrikan nasional, PT PLN (Persero) dan kontraktor lokal seperti PT Wijaya Karya atau PT Adhi Karya dapat menjajaki kerja sama dengan KEPCO atau Doosan Enerbility untuk proyek serupa di Indonesia. Apalagi, pemerintah tengah mendorong pembangunan pembangkit listrik berbasis gas dan uap di kawasan industri, seperti proyek kilang minyak dan petrokimia.
Menurut analis energi dari Universitas Indonesia, proyek kogenerasi seperti Jafurah memiliki efisiensi tinggi dan cocok diterapkan di kawasan industri terpadu di Indonesia, misalnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau proyek hilirisasi nikel dan bauksit. "Teknologi ini bisa menekan biaya energi hingga 30 persen dibandingkan pembangkit konvensional," ujarnya.
Kendati demikian, tantangan pendanaan dan transfer teknologi masih menjadi hambatan. KEPCO sendiri mendapat dukungan penuh dari pemerintah Korea Selatan melalui skema pembiayaan ekspor dan kerja sama bilateral. Indonesia perlu menyusun skema serupa agar kontraktor nasional bisa bersaing di pasar global.
Ke depannya, dengan rampungnya fase pertama Jafurah pada akhir Juni 2024, KEPCO akan segera memulai konstruksi fase kedua. Pertanyaannya, akankah perusahaan Korea ini mampu mempertahankan reputasi ketepatan waktu dan mutu di tengah tekanan rantai pasok global? Atau justru akan membuka celah bagi pesaing dari China dan Jepang yang juga mengincar proyek serupa di Saudi?