Khaldoon Akui Guardiola Sempat Ingin Hengkang 100 Kali, Kali Ini Sungguhan
Baca dalam 60 detik
- Pep Guardiola resmi meninggalkan Manchester City setelah 10 tahun dan 17 trofi, dengan Ketua Khaldoon Al Mubarak mengakui kali ini keputusan itu serius.
- Guardiola kerap mengancam mundur, namun Khaldoon selalu membujuknya bertahan; kali ini ia tidak melawan karena tahu waktunya telah tiba.
- Enzo Maresca, mantan asisten Guardiola, menjadi kandidat utama pelatih baru City, dengan pengumuman resmi diharapkan segera.

Ketua Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, mengungkapkan bahwa Pep Guardiola telah berkali-kali mengancam akan meninggalkan klub selama satu dekade kepemimpinannya, namun kali ini ia benar-benar serius. Dalam wawancara tahunan dengan media internal klub, Khaldoon mengakui bahwa ia tidak lagi berusaha membujuk Guardiola untuk bertahan karena merasakan keputusan itu sudah final.
Guardiola, yang bergabung pada 2016, memutuskan mundur setelah mengantar City meraih 17 trofi besar, termasuk enam gelar Premier League dan satu Liga Champions. Meski masih memiliki sisa kontrak satu tahun, pelatih asal Spanyol itu menyatakan dalam konferensi pers terakhirnya bahwa klub membutuhkan "manajer baru" dan "energi baru". Keputusan ini diumumkan tiga hari setelah hasil imbang melawan Bournemouth pada 19 Mei lalu.
Khaldoon menggambarkan hubungannya dengan Guardiola lebih dari sekadar profesional. "Dia lebih dari sekadar manajer klub. Bagiku, dia adalah teman. Selama bertahun-tahun kami menjadi teman dekat, dan aku menganggap diriku psikiaternya," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam masa-masa sulit, Guardiola "pasti sudah mengundurkan diri 100 kali selama 10 tahun ini". Namun, kali ini berbeda. "Aku tahu dia sungguh-sungguh, dan karena itu aku tidak melawannya," kata Khaldoon.
Khaldoon mengibaratkan Guardiola seperti "anak gembala yang berteriak serigala"—ancaman mundurnya kerap tidak perlu ditanggapi serius. Namun, kali ini ia tahu bahwa itu nyata. "Selalu akan ada satu momen di mana itu menjadi kenyataan," katanya. Guardiola sendiri sebelumnya sempat membantah akan pergi setelah final Piala FA, namun cara ia menjawab pertanyaan dan segera meninggalkan ruangan memicu spekulasi.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kepergian Guardiola menandai berakhirnya era dominasi City di Premier League. Banyak yang bertanya-tanya apakah klub sekaya City bisa mempertahankan performa tanpa arsitek utama mereka. Di sisi lain, kepindahan Guardiola bisa membuka peluang bagi pelatih lain untuk meramaikan persaingan liga, termasuk kemungkinan kembalinya persaingan ketat dengan klub-klub seperti Liverpool dan Arsenal.
Khaldoon meminta kesabaran kepada publik terkait pencarian pelatih baru. "Bersabarlah. Sebentar lagi kami akan mengumumkannya dan kalian akan merasa nyaman bahwa kami telah memilih manajer terbaik yang mungkin," ujarnya. Enzo Maresca, yang kini menangani Chelsea, disebut-sebut sebagai kandidat terdepan setelah menunjukkan kemampuan taktik yang diakui.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah City tetap menjadi kekuatan dominan tanpa Guardiola, atau justru mengalami kemunduran seperti yang dialami beberapa klub besar setelah kepergian pelatih legendarisnya? Jawabannya mungkin akan terlihat dalam beberapa musim ke depan.



