Leicester Tigers Akhirnya Temukan Pelatih Jangka Panjang? Transformasi di Bawah Geoff Parling
Baca dalam 60 detik
- Leicester Tigers mencatat 12 kemenangan dari 17 laga Premiership musim ini, plus gelar Piala Rugby, di bawah asuhan Geoff Parling.
- Parling merevolusi gaya bermain Tigers dari fisik kaku menjadi atraktif dan ekspansif, dengan mengandalkan pemain muda dan rekrutan tak terkenal.
- Stabilitas kepelatihan yang lama dinanti menjadi kunci kebangkitan klub paling sukses di Inggris, meski tantangan kehilangan staf pelatih dan pemain kunci sudah di depan mata.

Leicester Tigers, klub paling sukses di Inggris dengan 11 gelar liga, tengah menikmati musim yang tak biasa: mereka bermain indah. Setelah 13 tahun dan hampir 30 pelatih datang dan pergi, sosok Geoff Parling—mantan pemain yang kini menjadi kepala pelatih—berhasil mengakhiri kekacauan dan membawa angin segar ke Mattioli Woods Welford Road.
Di bawah Parling, Tigers memenangi 12 dari 17 pertandingan Premiership musim ini, merebut Piala Rugby, dan memastikan tempat di semifinal. Mereka bahkan berpeluang menjadi tuan rumah semifinal jika mengalahkan Bath dalam laga penentu akhir pekan ini. Transformasi ini tak hanya soal hasil, tapi juga cara bermain: dari tim yang identik dengan kekuatan fisik dan agresivitas, kini Leicester tampil cair, berani melempar bola lebar, dan membangun serangan dari daerah sendiri.
Parling, yang memiliki 29 caps untuk Inggris dan pernah menjadi bagian dari British and Irish Lions, diumumkan sebagai pelatih kepala ke-10 sejak 2013 pada Mei lalu. Ia menggantikan Michael Cheika yang hanya bertahan semusim. Manajemen klub saat itu sudah muak dengan pintu putar pelatih, dan para pemain pun kerap mengkritik ketidakstabilan dalam wawancara. Kata-kata "kontrak jangka panjang" disebut berulang kali dalam pengumuman perekrutan Parling.
Parling langsung mengubah filosofi permainan. Terinspirasi oleh Australian Rules Football selama bekerja di Australia, ia memprioritaskan akurasi tendangan dan meminta pemain menangkap bola di atas kepala saat menerima umpan tinggi. Hasilnya, Leicester menjadi tim dengan tendangan terbanyak dan jarak tendangan terjauh di liga. Namun yang lebih penting, mereka kini menghibur. Mantan pemain sayap Tigers, Tom Varndell, yang kini menjadi komentator BBC Radio Leicester, mengaku belum pernah melihat Leicester bermain sebebas ini. "Mereka punya lisensi untuk bermain rugby 'heads-up'," ujarnya.
Meski demikian, sisi keras Tigers tak sepenuhnya hilang. Paket depan mereka masih brutal, seperti terlihat saat menghajar Northampton Saints bulan lalu. Parling sendiri sempat menjadi viral karena melontarkan kata-kata kasar kepada presenter TNT yang dianggap mengganggu pemanasan pemain. "Kami masih punya ketajaman, tapi ada lebih banyak kedalaman dalam pendekatan kami," kata full-back Freddie Steward.
Salah satu perubahan terbesar musim panas lalu justru bukan di ruang pelatih, melainkan kehilangan banyak pemimpin senior. Lebih dari 500 caps internasional hengkang, termasuk ikon seperti Ben Youngs, Dan Cole, Julian Montoya, dan Handre Pollard. Staf pelatih sempat khawatir tidak ada lagi pemimpin di tim baru. Namun, muncullah generasi muda lulusan akademi 2019: Steward, Jack van Poortvliet, dan kapten klub Ollie Chessum. Mereka kini menjadi tulang punggung tim. Cameron Henderson, yang berusia 26 tahun, bahkan terkejut saat diberi tahu bahwa usianya di atas rata-rata skuad. "Kami harus beradaptasi dan melangkah maju; ini bagian yang menyenangkan untuk membentuk tim sesuai keinginan kami," katanya.
Parling juga jitu menemukan permata tersembunyi. Billy Searle, yang direkrut sebagai pilihan ketiga di posisi fly-half, tampil gemilang dengan permainan terbuka dan tendangan akurat, hingga menggeser James O'Connor dan Orlando Bailey. Meski kini cedera, ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik versi rekan setim. Will Wand dan Orlando Bailey, yang sebelumnya hanya pemain reguler Piala Rugby, kini menjadi duet centre utama dan tampil seperti pemain internasional. Archie van der Flier dan Joaquin Moro juga muncul dari ketidakjelasan.
CEO Andrea Pinchen berharap era Parling bertahan lama. "Setiap musim kami bilang 'awal baru, era baru', tapi semoga ini era Geoff Parling untuk bertahun-tahun ke depan. Ia sangat berdedikasi, sangat detail. Konsistensi itu sangat penting," ujarnya. Parling sendiri sudah memenuhi target minimal: finis empat besar dan memenangi trofi. Kini mereka menghadapi Bath untuk menentukan siapa yang menjadi tuan rumah semifinal. Kekalahan dari Exeter pekan lalu membuat persaingan papan atas semakin ketat.
Tantangan sudah menanti musim depan: pelatih serangan Pete Hewat dan pelatih depan Brett Deacon akan hengkang, begitu pula pemain seperti George Martin dan Nicky Smith. Ada pula kekhawatiran bahwa kesuksesan Parling bisa menarik perhatian tim nasional setelah Piala Dunia tahun depan. Namun, untuk saat ini, ada rasa tenang di Welford Road. Seperti dikatakan Nicky Smith yang akan pindah ke Sale, "Leicester akan selalu berada di sekitar papan atas. Mengalahkan mereka akan menjadi tantangan luar biasa. Saya tidak akan terkejut jika kelompok ini bersaing memperebutkan gelar selama bertahun-tahun."



