Ted Danson Kembali Minta Maaf atas Kontroversi Blackface: Niat Baik Tak Cukup
Baca dalam 60 detik
- Aktor veteran Ted Danson menyampaikan permintaan maaf baru atas aksi blackface yang dilakukannya di acara Friars Club pada 1993, mengakui bahwa dampak perbuatannya lebih penting daripada niat.
- Dalam podcast Who’s with Me?, Danson mengungkapkan bahwa ia dan Whoopi Goldberg sempat ingin mundur dari acara tersebut, namun akhirnya tetap tampil dengan ide yang kini ia sesali.
- Kontroversi ini kembali mencuat saat gerakan Black Lives Matter, mendorong Danson untuk merenungkan tanggung jawabnya dan belajar dari aktivis seperti Heather McGhee.

Ted Danson, aktor berusia 78 tahun yang dikenal lewat serial Cheers dan The Good Place, kembali menyampaikan permintaan maaf atas aksi blackface yang ia lakukan lebih dari tiga dekade lalu. Dalam wawancara terbaru di podcast Who’s with Me? yang dipandu komedian W. Kamau Bell, Danson mengakui bahwa niat baiknya saat itu tidak menghapus luka yang ditimbulkan pada komunitas kulit hitam.
Insiden tersebut terjadi pada 1993 saat Danson menjadi pembawa acara dalam sebuah roast Friars Club yang menghormati aktris dan komedian Whoopi Goldberg, yang saat itu menjadi kekasihnya. Dalam penampilannya, Danson menggunakan riasan wajah hitam dan menyampaikan lelucon yang dianggap rasis. Meskipun acara bersifat tertutup, berita tentang aksi itu menyebar luas dan memicu kecaman publik. Danson kini mengaku bahwa keputusannya untuk tampil dengan cara itu adalah bentuk kesombongan dan kebodohan.
“Saya pikir saya bisa melakukannya dengan baik… ternyata itu sangat arogan dan bodoh dari saya,” ujar Danson dalam podcast tersebut. Ia menambahkan bahwa reaksi penonton di ruangan langsung berbalik melawannya. Menurut perkiraannya, 20 persen hadirin memahami dan menyukainya, 30 persen memahami tetapi membencinya, dan 50 persen sisanya tidak mengerti serta membenci dirinya.
Danson juga mengungkapkan bahwa ia dan Goldberg sempat mencoba membatalkan keikutsertaan mereka, tetapi tidak berhasil. “Saat itu otak saya berpikir, ‘Ini adalah salah satu wanita kulit hitam paling kontroversial dan lucu di dunia. Saya harus meracik sesuatu untuknya. Tapi saya bukan pelawak panggung,’” kenangnya. Akhirnya, ia memilih pendekatan yang ia sebut “teater pertunjukan” dan menuangkan ide yang kini ia sesali.
Dalam wawancara tersebut, Danson juga menyinggung sorotan tajam yang ia dan Goldberg terima sebagai pasangan antarras di awal 1990-an. “Orang-orang mengira hubungan kami hanya didasari nafsu belaka, bukan karena saling menyukai atau melihat sesuatu dalam diri masing-masing,” katanya. Kritik terhadap hubungan mereka semakin deras setelah aksi blackface itu.
Goldberg saat itu membela Danson di depan publik. Dalam wawancara dengan The New York Times pada 1993, ia mengatakan kontroversi itu “telah menyebabkan luka besar pada seorang pria yang tidak pantas menerimanya.” Namun, Danson menegaskan bahwa dukungan tersebut tidak mengurangi tanggung jawabnya. “Niat saya tidak penting. Yang penting adalah dampak yang saya timbulkan pada orang lain,” ujarnya.
Kontroversi ini kembali mencuat saat gerakan Black Lives Matter, ketika klip-klip lama beredar di media sosial. Danson mengaku ketakutan saat itu. Ia kemudian berdiskusi dengan aktivis dan penulis Heather McGhee, yang diperkenalkan oleh Jane Fonda. “Dia tidak memberi saya keringanan. Dia berkata, ‘Ini adalah kesempatan yang saya harap Anda ambil,’” kenang Danson.
Di Indonesia, isu blackface dan sensitivitas rasial masih relevan mengingat keragaman etnis dan budaya. Meskipun konteks sejarahnya berbeda, kasus ini mengingatkan publik bahwa tindakan yang dianggap lucu atau berniat baik sekalipun dapat melukai kelompok tertentu. Para pegiat kesetaraan ras di Indonesia kerap menyoroti penggunaan simbol-simbol yang menyinggung suku atau agama dalam hiburan dan media.
Danson menutup pernyataannya dengan permintaan maaf yang tulus. “Saya pikir saya bisa bermain di level yang sama dengan para profesional, tapi ternyata tidak. Itu bodoh, bukan tempat saya, dan menyakitkan. Jadi saya minta maaf lagi kepada siapa pun yang mendengar bahwa saya cukup arogan untuk berpikir saya punya sesuatu untuk ditawarkan,” katanya. Pertanyaan yang tersisa: akankah permintaan maaf ini cukup untuk meredakan luka yang sudah mengakar, atau justru membuka kembali perdebatan tentang akuntabilitas di industri hiburan?



