IHSG Terjun Bebas ke Level Terendah Sejak Pandemi, Kapitalisasi Pasar Lenyap Rp 364 Triliun
Baca dalam 60 detik
- IHSG ambles 3,48% ke 5.734,26 pada sesi I, level terendah sejak Desember 2020, dengan 716 saham di zona merah.
- Pelemahan dipicu oleh tekanan institusional pasca-penurunan outlook Danantara, depresiasi rupiah ke Rp18.000/US$, dan antisipasi review MSCI.
- Kapitalisasi pasar menguap Rp 364 triliun dalam setengah hari; saham bank jumbo seperti BBCA dan BBRI menjadi pemberat utama.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan koreksi tajam pada sesi pertama perdagangan, ambles 3,48% ke level 5.734,26โposisi terendah yang belum pernah terjadi sejak awal Desember 2020, saat ketidakpastian pandemi Covid-19 masih membayangi.
Tekanan jual yang berlangsung sejak pembukaan pasar membuat IHSG langsung meninggalkan level 5.800 dalam hitungan menit. Dari total emiten yang tercatat, sebanyak 716 saham berada di zona merah, sementara hanya 68 saham yang berhasil mencatatkan penguatan. Adapun 175 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp 12,72 triliun dengan volume 20,87 miliar saham dalam 1,36 juta kali transaksi.
Koreksi yang terjadi bukan sekadar fluktuasi harian. Data menunjukkan kapitalisasi pasar bursa menguap hingga Rp 364 triliun hanya dalam setengah hari perdagangan. Angka ini mencerminkan aksi jual besar-besaran yang melanda hampir seluruh sektor, terutama properti dan bahan baku yang masing-masing ambles 6,44% dan 5,7%. Sektor teknologi menjadi yang paling resilien dengan koreksi 'hanya' 1,96%.
Pemberat utama indeks datang dari saham-saham perbankan jumbo. Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi kontributor negatif terbesar, masing-masing menekan IHSG sebesar 18,74 poin dan 17,25 poin. Diikuti oleh Barito Pacific (BRPT) milik Prajogo Pangestu yang menyumbang minus 10,13 poin, serta Bank Mandiri (BMRI) dan Astra International (ASII) dengan tekanan masing-masing 7,82 poin dan 7,98 poin.
Tekanan berkelanjutan ini tidak lepas dari akumulasi sentimen makroekonomi dan institusional. Salah satu pemicu utamanya adalah penurunan prospek (outlook) dari Danantara Investment Management pada hari sebelumnya, yang langsung mempengaruhi preferensi risiko investor institusional. Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat menambah kekhawatiran akan membengkaknya beban operasional emiten yang memiliki utang valas besar.
Faktor eksternal juga ikut berperan. Pelaku pasar tengah bersikap antisipatif menjelang dua agenda penting dari MSCI, yakni publikasi Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni. Potensi perubahan klasifikasi atau evaluasi akses pasar dapat mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur di pasar modal Indonesia lebih awal. Belum lagi rumor mengenai pemeringkatan dari S&P Global Ratings yang belum dirilis secara resmi, tetapi sudah memicu aksi jual di bursa.
Bagi investor domestik, situasi ini mengirim sinyal bahwa tekanan di pasar saham belum akan mereda dalam waktu dekat. Kombinasi pelemahan rupiah, ketidakpastian institusional, dan risiko downgrade dari lembaga pemeringkat global menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pemulihan IHSG. Pertanyaan besarnya: akankah otoritas pasar modal dan pemerintah mengambil langkah intervensi untuk menahan laju koreksi, atau membiarkan mekanisme pasar bekerja hingga sentimen negatif benar-benar terdiskon penuh?



