Jennifer Garner Buka Suara: Karier Terhenti Akibat Perceraian dengan Ben Affleck
Baca dalam 60 detik
- Jennifer Garner mengaku nyaris tidak bekerja selama bertahun-tahun setelah perceraiannya dengan Ben Affleck, karena fokus mengurus anak dan dampak emosional perpisahan.
- Aktris 53 tahun itu baru kembali aktif syuting setelah anak-anaknya beranjak dewasa, dan mengaku tak lagi merasa bersalah meninggalkan mereka demi pekerjaan.
- Pengalaman Garner mencerminkan dilema banyak ibu pekerja di industri kreatif, termasuk di Indonesia, yang kerap harus memilih antara karier dan keluarga.

Jennifer Garner, aktris yang namanya melambung lewat serial Alias dan film 13 Going on 30, mengaku nyaris menghilang dari layar lebar selama bertahun-tahun setelah perceraiannya dengan Ben Affleck. Dalam wawancara terbaru dengan InStyle, perempuan 53 tahun itu menyebut masa-masa setelah perpisahan sebagai periode yang penuh gejolak dan membuatnya hampir tidak bekerja sama sekali.
Garner dan Affleck menikah pada 2005, dikaruniai tiga anak—Violet (19), Seraphina (16), dan Samuel (13)—sebelum mengumumkan perpisahan pada 2015 dan resmi bercerai tiga tahun kemudian. Meski hubungan rumah tangga berakhir, keduanya tetap menjalin kerja sama sebagai orang tua dan kerap terlihat bersama di acara keluarga. Namun, di balik harmoni publik itu, Garner mengakui bahwa beban emosional dan tanggung jawab sebagai ibu tunggal membuatnya memilih mundur dari industri hiburan.
“Saat anak-anak masih kecil, saya sangat sedikit bekerja. Lalu terjadi gejolak besar dalam keluarga kami, sehingga saya benar-benar hampir tidak bekerja untuk waktu yang lama,” ujar Garner. Ia juga menambahkan bahwa setiap kehamilan dan masa pemulihan pasca-melahirkan otomatis menyita satu hingga satu setengah tahun dari kariernya. Keputusan itu, menurutnya, adalah pilihan sadar untuk mengutamakan peran sebagai ibu.
Kini, dengan anak-anak yang sudah beranjak remaja dan dewasa, Garner mulai kembali ke dunia akting. Proyek terbarunya, The Five-Star Weekend, menjadi ajang baginya untuk menekuni profesi tanpa rasa bersalah. “Untuk satu setengah tahun ini, saya benar-benar memanjakan diri dalam akting. Pekerjaan ini sangat egois—semua tentang jadwal saya, bukan tentang kegiatan sekolah anak atau antar-jemput,” katanya. Pengalaman itu, lanjut Garner, mengingatkannya bahwa akting tetap menjadi bagian penting dari identitasnya.
Yang menarik, Garner mengaku tidak lagi meminta maaf kepada anak-anaknya karena bekerja. Sebaliknya, ia berterima kasih atas dukungan mereka dan menegaskan bahwa batasan yang sehat memungkinkannya tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka. “Bekerja keras adalah bagian dari hidup. Gagal juga bagian dari hidup. Tersandung dan jatuh—semua ada tempatnya,” ujarnya.
Kisah Garner ini relevan dengan realitas banyak perempuan Indonesia, terutama di industri kreatif, yang kerap menghadapi tekanan serupa: antara mengejar karier dan mengurus keluarga. Di Tanah Air, isu work-life balance bagi ibu pekerja masih menjadi perdebatan hangat, apalagi dengan minimnya dukungan infrastruktur seperti cuti melahirkan yang memadai atau tempat penitipan anak yang terjangkau. Pengakuan Garner bahwa ia rela mengorbankan puncak karier demi anak-anaknya menjadi cermin bahwa pilihan serupa juga dihadapi oleh banyak ibu di Indonesia, meski dengan konsekuensi yang berbeda.
Ke depan, Garner berencana untuk terus aktif berakting tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan—baik di Hollywood maupun Indonesia—menyediakan ruang yang lebih fleksibel bagi para ibu pekerja? Ataukah pengorbanan seperti yang dilakukan Garner masih menjadi satu-satunya jalan?



