Ilaiyaraaja di Usia 83: Sang Maestro yang Merajut Nada Tanpa Batas
Baca dalam 60 detik
- Komposer legendaris India, Ilaiyaraaja, telah menghasilkan lebih dari 8.000 lagu film dan 1.000 skor film dalam sembilan bahasa selama lima dekade.
- Ia memadukan folk Tamil, musik klasik Karnatik, dan simfoni Barat dalam satu komposisi, menembus sekat sosial dan kasta di industri musik India.
- Di era digital, karya-karyanya kembali populer melalui platform streaming dan remix, sementara ia terus berkarya dan menggelar konser internasional.

Di usia 83 tahun, Ilaiyaraaja masih menjadi kekuatan yang tak terbantahkan dalam industri musik India. Komposer asal Tamil Nadu ini telah menorehkan lebih dari 1.000 skor film dan 8.000 lagu dalam sembilan bahasa—sebuah pencapaian yang belum tertandingi di dunia sinema India. Namun, yang membuatnya benar-benar istimewa bukanlah angka, melainkan kemampuannya merajut beragam tradisi musik dunia menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Perjalanan Ilaiyaraaja dimulai dari masa kecil yang penuh kesulitan. Lahir sebagai R Gnanathesikan di Pannaipuram, Tamil Nadu, pada Juni 1943, ia dibesarkan dalam keluarga miskin dan terpinggirkan. Ayahnya, seorang pengawas perkebunan kapulaga, meninggal saat ia berusia tujuh tahun. Ibunya, Chinnathayammal, menjadi tulang punggung keluarga. Bersama kakak sulungnya, Paavalar Varadharajan, yang tampil di acara-acara Partai Komunis, Ilaiyaraaja kecil belajar musik folk dan balada pedesaan sambil berkeliling dari desa ke desa.
Pada usia 14 tahun, ia terpaksa putus sekolah dan merantau ke Madras (kini Chennai) pada 1968 untuk mencari karier di dunia film. Ia rela berjalan kaki bermil-mil untuk menghemat ongkos bus dan sering tidur dalam keadaan lapar. Di bawah bimbingan Dhanraj Master, ia mendalami musik Barat, menguasai gitar dan piano, serta tenggelam dalam karya Bach, Beethoven, Mozart, dan Schubert. "Belajar dan menguasai alat musik datang secara alami padanya. Itu anugerah Tuhan," ujar Gangai Amaran, adik Ilaiyaraaja yang juga seorang sutradara musik terkenal.
Terobosan besarnya datang pada 1976 lewat film Annakili. Saat itu, ia diundang untuk menunjukkan bakatnya di hadapan tim produksi. Tanpa alat musik, ia menggunakan meja kayu sebagai instrumen perkusi dan bernyanyi. Produser terkesan, dan penulis lirik Panchu Arunachalam memberinya nama panggung "Ilaiyaraaja" yang berarti raja muda. Kesuksesan Annakili membuka pintu bagi puluhan film lainnya, dan ia segera menjadi komposer paling dicari di sinema India Selatan.
Yang membedakan Ilaiyaraaja dari komposer lain adalah kemampuannya memadukan unsur-unsur yang tampak bertolak belakang. Dalam satu lagu, ia bisa menggabungkan raga Karnatik, melodi folk India, dan simfoni Schubert atau Mozart. "Apa yang unik adalah ia menciptakan kohesivitas dari berbagai bentuk yang diambil dari genre musik yang berbeda. Itulah kejeniusan Ilaiyaraaja," kata TM Krishna, musisi Karnatik terkemuka. Pada pertunjukan Valiant Symphony di Chennai baru-baru ini, ia menjelaskan bagaimana ia menyisipkan Schubert's Unfinished Symphony ke dalam lagu Idhayam Pogudhey dari film Tamil 1979. "Keduanya berasal dari budaya yang berbeda. Tapi saya ingin membuktikan bahwa mereka tidak berbeda; ini hal yang sama," ujarnya.
Pengaruh Ilaiyaraaja melampaui batas geografis dan sosial. Tahun lalu, ia menjadi orang India pertama yang menggubah dan membawakan simfoni klasik Barat di London bersama Royal Philharmonic Orchestra, yang disebut sebagai "tonggak sejarah musik global". Di India, ia juga diakui karena mendobrak hambatan kasta dalam musik Karnatik, yang selama bertahun-tahun didominasi oleh musisi dari kasta atas. "Ia melampaui hierarki sosial dan kasta melalui musiknya," kata Krishna.
Meski dominasinya di industri film Tamil mulai bergeser sejak kemunculan AR Rahman pada awal 1990-an—yang sebelumnya menjadi pemain keyboard di orkestranya—Ilaiyaraaja tetap menjadi kekuatan besar. Ia terus menggubah musik untuk beberapa film setiap tahun, menggelar konser internasional, dan bahkan menghasilkan album berdasarkan sastra Tamil kuno. Kini, generasi baru menemukan kembali karya-karyanya melalui platform streaming dan remix viral, seperti lagu Kiliye Kiliye (1983) yang dihidupkan kembali dalam film Lokah Chapter 1: Chandra.
Namun, perjalanan sang maestro tidak lepas dari kontroversi. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terlibat dalam pertarungan hukum terkait royalti dan penggunaan musiknya tanpa izin. Meski demikian, warisan musiknya tetap abadi. Pertanyaannya, di tengus gempuran musik digital dan selera pendengar yang terus berubah, mampukah Ilaiyaraaja terus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas seperti yang ia lakukan selama setengah abad terakhir?



