PM Jepang Siapkan Tur Eropa: Agenda Bilateral dan KTT G7 di Prancis
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dijadwalkan mengunjungi Inggris, Italia, dan Prancis mulai 13 Juni 2026.
- Pertemuan bilateral akan membahas proyek jet tempur generasi berikutnya serta kerja sama siber dan antariksa.
- KTT G7 di Evian akan menyoroti rantai pasok mineral kritis, energi, dan dukungan untuk Ukraina.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dikabarkan akan memulai lawatan ke tiga negara Eropa pada 13 Juni mendatang, dengan agenda utama menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kelompok Tujuh (G7) di Evian, Prancis. Rencana ini diungkapkan oleh sumber pemerintah Jepang pada Rabu (4/6).
Dalam rangkaian perjalanan tersebut, Takaichi dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada 14 Juni, disusul dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni sehari setelahnya. Kedua pertemuan itu akan menjadi pendahuluan sebelum KTT G7 yang berlangsung tiga hari, mulai 15 hingga 17 Juni.
Isu strategis yang diperkirakan mendominasi diskusi bilateral adalah proyek bersama pengembangan jet tempur generasi terbaru antara Jepang, Inggris, dan Italia. Selain itu, kerja sama di bidang keamanan siber dan antariksa juga masuk dalam daftar prioritas pembicaraan. Langkah ini menunjukkan penguatan aliansi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik dan Eropa di tengah ketegangan geopolitik global.
Pada sesi KTT G7, para pemimpin negara industri diperkirakan akan membahas penguatan rantai pasok mineral kritis sebagai respons terhadap kebijakan ekspor China yang kerap digunakan sebagai alat tekanan. Stabilitas pasokan energi juga menjadi sorotan, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung. Tak ketinggalan, dukungan berkelanjutan untuk Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia akan menjadi salah satu agenda utama.
Bagi Indonesia, lawatan ini memiliki relevansi tersendiri. Jepang merupakan mitra dagang dan investor penting di sektor infrastruktur dan energi. Keputusan Tokyo untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara Eropa dalam rantai pasok mineral kritis dapat berdampak pada harga komoditas global, termasuk nikel dan bauksit yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Selain itu, kerja sama pertahanan Jepang-Inggris-Italia dalam pengembangan jet tempur generasi baru menandai pergeseran peta industri pertahanan yang bisa mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia.
Para pengamat menilai bahwa kunjungan ini juga menjadi ajang bagi Takaichi untuk memperkuat posisi Jepang di tengah rivalitas AS-China. Dengan memilih Eropa sebagai mitra strategis, Jepang tampaknya ingin mendiversifikasi ketergantungan keamanannya tanpa sepenuhnya meninggalkan payung keamanan Amerika Serikat. Pertanyaannya, sejauh mana langkah ini akan diikuti oleh negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks?