Rayhan Hannan: Dari Bangku Cadangan ke Timnas dalam Satu Musim
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Persija Jakarta hanya tampil tujuh kali di putaran pertama, namun berhasil membalikkan keadaan dengan kerja keras.
- Penampilan konsisten di 10 laga terakhir, dengan torehan tiga gol dan satu assist, menjadi tiketnya ke Timnas Indonesia.
- Kisah Hannan menjadi contoh nyata bahwa ketekunan dan fokus bisa mengubah nasib di tengah persaingan ketat sepak bola nasional.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5185863/original/001845400_1744517045-_rayhannan___PersijaDay__BRILiga1__Persija.jpg)
Gelandang muda Persija Jakarta, Rayhan Hannan, berhasil menembus skuad Timnas Indonesia untuk FIFA Matchday Juni 2026 setelah melalui awal musim yang penuh tantangan di BRI Super League 2025/2026. Pemain berusia 22 tahun ini hanya menjadi starter dalam tujuh dari 24 pertandingan pertama musim ini, namun transformasinya di putaran kedua menjadi bukti bahwa kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.
Pada paruh pertama kompetisi, Hannan harus rela duduk di bangku cadangan lebih sering. Pelatih Mauricio Souza lebih memilih Dony Tri Pamungkas dan Arlyansyah Abdulmanan untuk mengisi kuota pemain U-23 yang diwajibkan bermain minimal 45 menit. Sebagai gelandang serang, Hannan juga kalah bersaing dengan pemain senior di posisinya. Namun, alih-alih menyerah, ia memilih untuk terus berlatih maksimal dan menunjukkan dedikasi di setiap sesi latihan.
Perlahan kepercayaan mulai datang. Memasuki putaran kedua, Hannan mendapatkan kesempatan bermain lebih banyak, bahkan sejak menit awal. Dalam 10 laga terakhir Persija, ia selalu tampil, dengan sembilan di antaranya sebagai starter. Catatan produktivitasnya pun meningkat: tiga gol dan satu assist, dengan dua gol dan satu assist tercipta pada pekan ke-31 hingga ke-34. Performa ini tak luput dari perhatian pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, yang akhirnya memanggilnya untuk memperkuat Garuda.
Hannan, putra dari mantan pemain PSIS Semarang dan Persija, Harry Salisbury, mengibaratkan perjalanannya seperti roda kehidupan. "Ya mungkin itu sepak bola. Sama kayak hidup, kadang di atas kadang di bawah. Tapi saya tidak pernah hilang fokus, saya kerja keras, dan semua akan datang pada waktunya," ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa motivasinya sederhana: hanya ingin bermain sepak bola dan menunjukkan kemampuan terbaik tanpa perlu membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Kisah Hannan menjadi cermin bagi pesepak bola muda Indonesia bahwa jalan menuju puncak tidak selalu mulus. Persaingan ketat di klub, tekanan memenuhi regulasi pemain muda, dan ekspektasi publik adalah tantangan yang harus dihadapi. Namun, dengan ketekunan dan fokus, peluang tetap terbuka. Langkah Hannan ke Timnas juga menjadi sinyal positif bagi pembinaan pemain lokal di BRI Super League, yang kerap dianggap sebagai batu loncatan menuju level internasional.
Ke depan, publik akan menanti apakah Hannan bisa mempertahankan performa apiknya di level timnas. Jika konsisten, bukan tidak mungkin ia akan menjadi andalan di lini tengah Garuda untuk jangka panjang. Pertanyaannya, mampukah ia memanfaatkan momentum ini untuk terus berkembang?



