Peta Medan Magnet Kosmik Terbesar dan Terdetail Dirilis, Ilmuwan Buka Jendela Baru Alam Semesta
Baca dalam 60 detik
- Tim astronom internasional menggunakan teleskop radio ASKAP di Australia untuk memetakan medan magnet dari 350.000 galaksi, sepuluh kali lipat lebih banyak dari peta sebelumnya.
- Peta berjudul SPICE-RACS ini mengungkap struktur medan magnet di Bima Sakti dan galaksi jauh, membantu menjelaskan evolusi galaksi dan asal-usul medan magnet kosmik.
- Data terbuka untuk komunitas riset global, dengan proyek lanjutan POSSUM ditargetkan selesai pada 2030 untuk resolusi lebih tajam.

Medan magnet kosmik, yang selama ini tak kasat mata, kini terpetakan dengan detail yang belum pernah tercapai sebelumnya. Tim astronom yang menggunakan teleskop radio ASKAP di Australia Barat berhasil merilis peta medan magnet terbesar dan paling rinci yang pernah dibuat, mencakup 350.000 galaksi—sebuah lompatan besar dari peta sebelumnya yang hanya berisi puluhan ribu titik.
Peta yang dinamai SPICE-RACS ini merupakan hasil kolaborasi dua survei besar: Polarisation Sky Survey of the Universe’s Magnetism (POSSUM) dan Rapid ASKAP Continuum Surveys (RACS). Dengan memanfaatkan cahaya dari galaksi-galaksi jauh yang terpolarisasi saat melewati medan magnet, para astronom dapat melacak arah dan kekuatan medan magnet di ruang antargalaksi. Warna merah pada peta menunjukkan medan magnet yang mengarah ke Bumi, sementara biru menandakan arah sebaliknya—mirip kompas raksasa kosmik.
Peta sebelumnya yang dirilis pada 2009 sudah berusia 17 tahun dan sangat terbatas dalam jumlah sumber. Kini, dengan 350.000 galaksi sebagai titik pengukuran—hampir sepuluh kali lipat dari rekor sebelumnya—para ilmuwan dapat melihat struktur medan magnet Bima Sakti yang berpusar dan gelembung-gelembung raksasa, serta sinyal dari alam semesta yang lebih jauh. Menurut makalah yang terbit di Publications of the Astronomical Society of Australia, data ini sudah digunakan untuk penelitian baru di berbagai belahan dunia.
Medan magnet memainkan peran krusial dalam evolusi galaksi. Meskipun sangat lemah di ruang antarbintang—sejuta kali lebih lemah dari medan magnet Bumi—mereka bertindak seperti baterai raksasa yang menyimpan energi dan dapat memperlambat atau bahkan menghentikan pembentukan bintang baru. Di sisi ekstrem, objek seperti bintang neutron dan lubang hitam memiliki medan magnet miliaran kali lebih kuat dari Bumi. Namun, asal-usul medan magnet kosmik masih menjadi misteri besar, termasuk bagaimana mereka berevolusi sejak Big Bang.
Bagi Indonesia, peta ini membuka peluang kolaborasi riset astrofisika. Meskipun belum memiliki teleskop radio sebesar ASKAP, para astronom Indonesia dapat mengakses data publik SPICE-RACS untuk studi lanjutan, misalnya tentang pengaruh medan magnet terhadap pembentukan bintang di galaksi terdekat atau kaitannya dengan dinamika medium antarbintang. Keberadaan Observatorium SKA di Australia dan Afrika Selatan juga menjadi momentum bagi pengembangan sumber daya manusia di bidang radio astronomi di kawasan Asia Tenggara.
“Kami berencana menggabungkan semua versi RACS untuk menciptakan peta yang lebih besar dan lebih detail. POSSUM akan membuka jendela baru pada medan magnet kosmik yang jauh, memungkinkan kita melihat lebih jauh ke dalam sejarah alam semesta,” demikian pernyataan tim peneliti dalam publikasi mereka.
Dengan data yang tersedia secara terbuka, para astronom di seluruh dunia kini dapat menyelidiki pertanyaan-pertanyaan fundamental: bagaimana medan magnet pertama kali muncul? Bagaimana mereka berubah sepanjang waktu? Dan sejauh apa pengaruhnya terhadap struktur alam semesta berskala besar? Peta SPICE-RACS adalah langkah awal menuju jawaban-jawaban itu, dan POSSUM diharapkan memberikan ketajaman yang lebih tinggi pada awal dekade mendatang.


