Fosil Tawon Zaman Dinosaurus Dinamai Oscar Piastri, Pembalap F1 McLaren
Baca dalam 60 detik
- Spesies tawon purba dari periode Cretaceous yang diawetkan dalam amber Myanmar diberi nama Gwesped piastrii untuk menghormati pembalap F1 Oscar Piastri.
- Warna oranye pada amber mengingatkan peneliti pada warna ikonik mobil McLaren, menjadi alasan pemilihan nama tersebut.
- Penghargaan ini menambah daftar prestasi Piastri yang baru dua musim di F1 namun telah mengoleksi sembilan kemenangan grand prix.
Seekor tawon purba yang hidup di era dinosaurus dan terawetkan dalam batu amber asal Myanmar resmi menyandang nama pembalap Formula One asal Australia, Oscar Piastri. Spesies yang ditemukan di wilayah utara Myanmar itu diberi nama ilmiah Gwesped piastrii oleh para peneliti dalam jurnal Palaeoworld edisi Juni 2025.
Nama tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Dalam artikel riset yang dipublikasikan, para ilmuwan menjelaskan bahwa warna oranye pada batu amber tempat fosil tawon itu terperangkap mengingatkan mereka pada warna khas mobil McLaren—tim tempat Piastri berlaga. “Epitet spesifik ini menghormati Tuan Oscar Piastri atas pencapaiannya di Formula One, dan karena warna amber tersebut mengingatkan penulis pertama pada warna oranye ikonik McLaren,” tulis para peneliti.
Tawon purba ini berasal dari periode Cretaceous pertengahan, yang berakhir sekitar 65 juta tahun lalu. Artinya, serangga tersebut hidup berdampingan dengan dinosaurus sebelum akhirnya punah. Fosil dalam amber seperti ini sangat langka dan memberikan jendela unik ke masa lalu, terutama untuk memahami evolusi serangga.
Bagi Piastri, pengakuan dari dunia paleontologi ini menjadi kejutan di tengah padatnya jadwal balap. Pembalap berusia 25 tahun itu baru memulai debut F1 pada 2023 dan telah mengoleksi sembilan kemenangan grand prix. Saat ini ia sedang menghadiri ajang Isle of Man TT di sela libur akhir pekan sebelum Grand Prix Monako yang berlangsung pada 7 Juni. Hingga berita ini diturunkan, Piastri belum memberikan komentar resmi mengenai penghargaan tak biasa tersebut.
Penamaan spesies berdasarkan tokoh publik, terutama atlet, sebenarnya bukan hal baru dalam dunia taksonomi. Namun, kasus ini menarik karena menghubungkan dunia Formula One yang modern dengan paleontologi. Di Indonesia, fenomena ini bisa menjadi pengingat bahwa sains dan olahraga dapat beririsan secara kreatif. Bagi penggemar F1 di Tanah Air, berita ini mungkin menambah daya tarik tersendiri pada sosok Piastri yang dikenal sebagai pembalap muda berbakat.
Ke depan, apakah akan ada lebih banyak spesies purba yang dinamai berdasarkan pembalap F1? Atau justru sebaliknya, para ilmuwan mulai melirik atlet lain sebagai inspirasi? Yang jelas, Gwesped piastrii telah mengukir namanya—secara harfiah—dalam sejarah evolusi, sejajar dengan prestasi sang pembalap di sirkuit.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)
