Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana: Catatan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto memberhentikan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) setelah evaluasi 1,5 tahun terhadap program Makan Bergizi Gratis.
- Mensesneg Prasetyo Hadi mengungkapkan temuan pelanggaran SOP, tata kelola, dan kualitas makanan menjadi dasar pergantian, dengan harapan perbaikan segera dilakukan.
- Pengganti Dadan, Nanik Sudaryati Deyang, diharapkan mampu membenahi catatan evaluasi dan melanjutkan program gizi nasional yang menyasar jutaan penerima manfaat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5368321/original/016716900_1759373110-WhatsApp_Image_2025-10-02_at_09.36.17.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto secara resmi mencopot Dadan Hindayana dari posisi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan menunjuk Nanik Sudaryati Deyang sebagai penggantinya. Keputusan ini diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kantor Presiden Jakarta pada Selasa (2/6/2026), setelah melalui proses pemantauan dan evaluasi selama satu setengah tahun terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Prasetyo, hasil monitoring menunjukkan sejumlah catatan kritis yang menjadi pertimbangan utama Presiden. "Banyak catatan yang kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan pergantian ini, dengan harapan catatan tersebut dapat segera diperbaiki," ujarnya. Catatan tersebut mencakup kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP), tata kelola organisasi, serta upaya menjaga kualitas makanan yang telah ditetapkan BGN.
Pergantian ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas program unggulan pemerintah di bidang gizi. Dadan, yang berlatar belakang akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan gelar doktor dari Leibniz University Hannover, sebelumnya dipercaya mengawal program MBG sejak awal. Namun, temuan evaluasi menunjukkan adanya celah dalam implementasi di lapangan. Prasetyo menegaskan bahwa berbagai temuan tersebut menjadi dasar objektif bagi Presiden untuk melakukan rotasi kepemimpinan di BGN.
Bagi publik Indonesia, khususnya penerima manfaat program MBG, pergantian ini membawa harapan baru. Program yang menyasar jutaan siswa dan kelompok rentan membutuhkan tata kelola yang ketat dan kualitas makanan yang terjamin. Catatan evaluasi yang diungkapkan pemerintah mengindikasikan bahwa perbaikan sistemik diperlukan, mulai dari rantai pasok hingga distribusi. Analis kebijakan publik menilai bahwa langkah Presiden Prabowo menunjukkan keseriusan dalam memastikan program berjalan sesuai target, meskipun harus mengganti pejabat di tengah jalan.
Ke depan, Nanik Sudaryati Deyang dihadapkan pada tantangan besar: membenahi catatan evaluasi tanpa mengganggu kelangsungan program. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah ia mampu memperbaiki SOP dan tata kelola organisasi secara cepat, serta menjaga kualitas makanan di tengah tekanan anggaran dan logistik. Pemerintah sendiri belum merinci jadwal perbaikan konkret, namun publik menanti langkah nyata dari kepemimpinan baru BGN.