Putin Janji Perkuat Pertahanan Udara, Serangan Drone Ukraina Makin Dalam
Baca dalam 60 detik
- Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui serangan drone Ukraina telah menembus pertahanan dan berjanji memperkuat sistem pertahanan udara.
- Putin menyatakan siap berkompromi berdasarkan kesepakatan dengan Trump di Alaska, namun menuntut Ukraina menerima syarat tersebut.
- Zelenskyy mengusulkan negosiasi langsung, sementara Kremlin menawarkan Moskow sebagai lokasi pertemuan.

Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (5/6), menyatakan akan memperkuat sistem pertahanan udara negaranya setelah serangan drone Ukraina berhasil menembus wilayah Rusia dan mencapai kota St. Petersburg, tempat forum ekonomi tahunan yang menjadi etalase investasi Rusia. Pengakuan ini muncul dalam sesi tanya jawab dengan pimpinan kantor berita internasional di sela-sela Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.
Putin mengakui bahwa beberapa serangan drone Ukraina berhasil menembus pertahanan. “Sayangnya, beberapa di antaranya berhasil lolos. Rusia memiliki sistem pertahanan udara, kami perlu memperbaikinya, memperkuatnya, dan kami akan melakukannya,” ujarnya. Serangan drone terjadi beberapa jam sebelum forum dibuka pada Rabu (4/6), menghantam terminal minyak dan pangkalan angkatan laut di St. Petersburg.
Dalam kesempatan yang sama, Putin menyatakan Rusia terbuka terhadap kompromi untuk mengakhiri konflik di Ukraina, berdasarkan kesepahaman yang dicapai dalam pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Anchorage, Alaska. Namun, ia menegaskan bahwa Ukraina harus menerima kompromi tersebut. “Tidak perlu menghentikan permusuhan untuk memulai negosiasi. Tentu saja, pihak Ukraina ingin kami menghentikan kemajuan pasukan Rusia. Tapi akan lebih baik mengakhiri perang dengan menyetujui kompromi yang dibahas di Anchorage,” kata Putin.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengirimkan surat terbuka kepada Putin yang berisi proposal negosiasi tatap muka. Zelenskyy mengakui adanya pergeseran prioritas AS yang kini lebih fokus pada perang di Iran, dan mengatakan tidak bijak menunggu perhatian AS kembali ke Ukraina. Menanggapi hal ini, Trump menyatakan akan “sangat baik” jika Putin dan Zelenskyy bertemu. Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Putin belum melihat surat tersebut dan mengulangi pernyataan bahwa Zelenskyy bisa datang ke Moskow jika menginginkan perundingan. Putin sebelumnya mengatakan tidak menutup kemungkinan pertemuan di negara ketiga, tetapi hanya jika ada kesepakatan yang siap ditandatangani.
Putin menolak gagasan negara-negara Uni Eropa menjadi mediator, dengan alasan mediasi membutuhkan netralitas. “Di mana netralitasnya?” ujarnya. Ia menambahkan bahwa mediator potensial harus dipercaya oleh kedua belah pihak. “Bagaimana Rusia bisa mempercayai orang-orang yang selama ini terus-menerus berbicara tentang perlunya memberikan kekalahan strategis kepada Rusia?”
Mengenai penggunaan rudal balistik jarak menengah Oreshnik, Putin mengatakan rudal itu ditembakkan ke sasaran yang memungkinkan pengujian kemampuan dan presisi sebelum digunakan terhadap objek yang lebih dekat ke area pemukiman. “Kami menghantam area yang nyaman untuk melihat hasilnya. Ini penting untuk mengambil keputusan tentang penggunaan Oreshnik secara penuh pada sasaran yang ditentukan, termasuk di daerah berpenduduk,” jelasnya.
Putin juga menegaskan ambisinya untuk menguasai seluruh wilayah Donetsk di Ukraina timur, dan mengklaim pasukan Rusia terus maju di sepanjang garis kontak. Ia menyatakan bahwa “patriotisme dan kemauan rakyat Rusia” akan memastikan tercapainya tujuan Moskow di Ukraina.
Ketika ditanya mengenai investigasi Associated Press yang mencatat 191 insiden di Eropa, termasuk sabotase, serangan siber, dan percobaan pembunuhan yang dituding sebagai kampanye Rusia, Putin membantah dengan mengatakan tidak ada bukti rinci keterlibatan Moskow. “Apa faktanya? Apa yang sudah terbukti?” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tuduhan itu menunjukkan Eropa tidak siap berbicara dengan Rusia sebagai mitra setara.
Dalam konteks Indonesia, eskalasi konflik Rusia-Ukraina berpotensi mempengaruhi harga komoditas global, termasuk minyak dan gas, yang berdampak pada anggaran subsidi energi dalam negeri. Selain itu, ketegangan yang berkepanjangan dapat mengganggu rantai pasokan pangan global, mengingat Ukraina adalah salah satu lumbung gandum dunia. Indonesia perlu mencermati dinamika ini untuk mengantisipasi fluktuasi harga dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah proposal negosiasi Zelenskyy akan mendapat sambutan positif dari Kremlin, atau justru memperlebar jurang perbedaan. Dengan AS yang kini terfokus pada Iran, Ukraina mungkin harus mencari dukungan alternatif, sementara Rusia tampaknya memanfaatkan momentum militer untuk memperkuat posisi tawarnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8056381/original/019256200_1780900064-Workshop_PAN.jpeg)


