Australia Rebut Bintang Muda Italia untuk Piala Dunia 2026, Volpato Pilih Tim Kanguru
Baca dalam 60 detik
- Pemain depan Sassuolo, Cristian Volpato, resmi masuk skuad Australia untuk Piala Dunia 2026 setelah sebelumnya menolak panggilan serupa pada edisi 2022.
- Keputusan Volpato mengakhiri peluangnya membela timnas Italia senior, menjadi pukulan lain bagi regenerasi Azzurri yang kerap kehilangan talenta keturunan.
- Volpato bergabung dengan rekan setimnya di Serie A, Alessandro Circati, memperkuat barisan pemain berpengalaman di skuad Socceroos yang dipersiapkan ke Amerika Utara.

Australia secara resmi mengamankan jasa Cristian Volpato, penyerang Sassuolo berusia 22 tahun yang sebelumnya membela tim muda Italia, untuk memperkuat skuad Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Langkah ini menjadi pukulan baru bagi sepak bola Italia yang kembali kehilangan pemain potensial keturunan imigran.
Volpato lahir di Australia dari orang tua Italia dan memulai karier di akademi Roma pada Januari 2020. Setelah dijual ke Sassuolo seharga 7,5 juta euro pada musim panas 2023, ia mencatatkan 26 penampilan di Serie A musim ini dengan torehan dua gol dan empat assist. Meski sempat dipanggil Australia untuk Piala Dunia 2022 di Qatar, Volpato saat itu menolak demi tetap membela Italia. Namun, karena tak kunjung mendapat caps senior bersama Azzurri, ia akhirnya menerima panggilan kedua dari pelatih Tony Popovic.
Keputusan ini memastikan Volpato tidak lagi bisa memperkuat Italia di masa depan setelah ia berlaga untuk Socceroos. Fenomena ini bukan pertama kali terjadi; sebelumnya Australia juga merekrut Alessandro Circati, bek Parma yang lahir di Italia namun pindah ke Australia saat kecil. Circati masuk dalam daftar 26 pemain yang diumumkan Federasi Sepak Bola Australia (FA) pada hari yang sama.
Bagi Australia, kehadiran Volpato menambah opsi di lini depan yang sebelumnya diisi pemain seperti Mathew Leckie, Craig Goodwin, dan Mitchell Duke. Skuad Socceroos juga diperkuat sejumlah pemain yang bermain di Eropa, seperti Harry Souttar (Leicester City) dan Jackson Irvine (St. Pauli). Dengan persiapan menuju turnamen yang masih dua tahun lagi, keputusan Volpato memberikan stabilitas lebih awal bagi tim asuhan Popovic.
Di sisi lain, Italia harus kembali merenungkan strategi pembinaan pemain keturunan. Kehilangan Volpato menyusul kasus serupa seperti Franco Vรกzquez (Argentina) dan Jorginho (Brasil) yang memilih negara lain. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dinilai perlu mempercepat proses naturalisasi dan memberikan kesempatan debut lebih awal agar talenta muda tidak tergoda pindah kewarganegaraan sepak bola.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Dengan banyaknya pemain keturunan yang bermain di luar negeri, PSSI dan pemerintah perlu memastikan regulasi naturalisasi yang jelas serta program pembinaan yang kompetitif agar potensi diaspora tidak beralih ke negara lain. Kasus Volpato menunjukkan bahwa keputusan pemain sering kali bergantung pada peluang bermain dan prospek karier jangka panjang.
Ke depan, akan menarik untuk melihat apakah Australia mampu memanfaatkan tambahan amunisi ini untuk melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026, atau justru Italia akan semakin getol mengamankan talenta mudanya sebelum terlambat.



