Perang Kata 'Soccer' vs 'Football': Sejarah Panjang di Balik Panggilan Olahraga Paling Populer
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump memicu perdebatan global dengan menyebut istilah 'soccer' tidak tepat untuk sepak bola, padahal kata itu lahir dari Inggris pada abad ke-19.
- Penolakan terhadap 'soccer' di Inggris baru menguat pada 1980-an sebagai reaksi terhadap popularitasnya di Amerika Serikat, bukan karena alasan linguistik murni.
- Alih-alih memicu perpecahan, keberagaman istilah seperti 'futebol' atau 'calcio' justru memperkaya bahasa global olahraga ini dan mencerminkan penerimaan lintas budaya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang baru-baru ini menerima penghargaan perdamaian FIFA, mengejutkan publik saat pengundian Piala Dunia 2026 dengan menyatakan bahwa olahraga yang dikenal sebagai 'soccer' seharusnya disebut 'football'. Pernyataan itu sontak memicu kembali perdebatan abadi antara dua istilah yang sama-sama memiliki akar sejarah kuat, namun kerap menjadi ajang adu gengsi antar penggemar.
Trump bukan satu-satunya yang meragukan legitimasi kata 'soccer'. Di berbagai belahan dunia, terutama di Inggris dan di kalangan penggemar 'sejati' di Amerika Utara, penggunaan istilah itu kerap dipandang rendah. Seolah-olah mereka yang menyebut 'soccer' dianggap tidak paham esensi olahraga yang dimainkan 4 miliar orang di seluruh dunia ini.
Padahal, menurut para sejarawan olahraga, sikap meremehkan 'soccer' tidak berdasar. Istilah itu justru lahir dari rahim Inggris sendiri pada pertengahan abad ke-19. Saat itu, 'association football' diciptakan pada 1863 untuk membedakan permainan ini dari rugby football. Mahasiswa universitas di Inggris, yang gemar menyingkat kata dan menambahkan akhiran '-er', mengubah 'association' menjadi 'assoc' lalu menjadi 'soccer'. Bersama 'rugger' untuk rugby, 'soccer' menjadi slang populer di kalangan kelas atas.
Menariknya, media dan masyarakat Inggris menggunakan kata 'soccer' dengan bangga selama hampir satu abad, hingga 1980-an. Baru setelah Amerika Serikat mengadopsi istilah itu secara massal, publik Inggris mulai menjauhinya. Penolakan itu lebih merupakan reaksi kultural terhadap dominasi budaya Amerika, bukan murni persoalan kebahasaan.
Di Indonesia, perdebatan 'soccer' vs 'football' mungkin terdengar asing. Sejak awal, masyarakat Indonesia mengenal olahraga ini sebagai 'sepak bola', serapan dari bahasa Inggris 'football'. Namun, fenomena ini tetap relevan sebagai cermin bagaimana identitas dan kebanggaan nasional bisa melekat pada pilihan kata. Di era global, penggemar sepak bola Indonesia kerap mengikuti liga Inggris dan Eropa, sehingga familiar dengan kedua istilah tersebut.
Menurut analis bahasa dan budaya populer, penggunaan istilah yang beragam justru memperkaya khazanah global. Bahasa terus berevolusi. Penggemar di Brasil menyebutnya 'futebol', di Italia 'calcio', dan di Spanyol 'fútbol'. Semua merujuk pada permainan yang sama. Memaksakan satu istilah tunggal hanya akan menimbulkan resistensi yang tidak perlu.
Seperti diungkapkan oleh seorang pengamat olahraga, "Perdebatan ini sebenarnya lebih tentang identitas dan kebanggaan daripada akurasi linguistik. Kata 'soccer' memiliki legitimasi sejarah yang kuat. Menolaknya sama saja menolak warisan budaya sendiri."
Ke depan, akankah Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko justru memperkuat penggunaan 'soccer' di panggung global? Atau justru sebaliknya, tekanan dari para puritan 'football' akan membuat istilah itu semakin terpinggirkan? Yang jelas, selama 4 miliar penggemar masih menikmati permainan indah ini, apa pun namanya, esensinya tetap sama.



