Rupiah Sentuh Rekor Terendah Rp17.925, Ekonom Beberkan Tiga Syarat untuk Berbalik Menguat
Baca dalam 60 detik
- Rupiah jatuh ke level terlemah sepanjang masa di Rp17.925 per dolar AS pada perdagangan Rabu, didorong konflik global dan melemahnya surplus perdagangan.
- Ekonom menilai penguatan terbatas hanya mungkin terjadi jika harga minyak turun, arus modal asing kembali, dan sinyal fiskal pemerintah meyakinkan.
- Tanpa perbaikan fundamental, rupiah berisiko bertahan di kisaran Rp17.800โRp18.000, diperparah oleh kebijakan moneter global yang semakin hawkish.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus level terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu (3/6/2026), menyentuh Rp17.925 per dolar AS. Pelemahan ini tidak hanya mencerminkan tekanan global, tetapi juga mengungkap kerapuhan fundamental domestik yang membuat mata uang Garuda semakin terpuruk.
Menurut data Refinitif, rupiah telah menembus batas psikologis Rp17.900 dan kini mendekati level kritis Rp18.000. Kondisi ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia dalam sebulan terakhir, dipicu oleh kekhawatiran belanja fiskal dan lonjakan harga minyak dunia.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai pelemahan ini merupakan kombinasi tekanan eksternal dan internal. Dari sisi global, ketidakpastian konflik AS-Iran, risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, serta harga minyak yang tetap tinggi mendorong permintaan dolar AS sebagai aset aman. Sementara itu, dari dalam negeri, kualitas surplus neraca perdagangan terus menurun drastis.
Josua menjelaskan bahwa penurunan surplus ini membuat pasokan dolar dari ekspor semakin tipis, sementara kebutuhan dolar untuk impor bahan baku, energi, dan barang modal justru meningkat. "Rupiah melemah bukan karena Indonesia langsung defisit perdagangan, tetapi karena kualitas surplusnya sudah melemah dan tidak lagi cukup kuat menjadi penyangga nilai tukar," ujarnya.
Meski demikian, Josua melihat masih ada peluang penguatan, meski terbatas dan bertahap. Ia mengemukakan tiga syarat utama agar rupiah bisa kembali ke kisaran Rp17.600โRp17.750. Pertama, harga minyak harus turun lebih jelas, yang bergantung pada kemajuan perundingan damai AS-Iran. Kedua, arus modal asing harus kembali masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Ketiga, pemerintah perlu memberikan sinyal fiskal yang meyakinkan kepada pasar.
Namun, jika harga minyak kembali naik, pembicaraan damai terhambat, dolar AS menguat lagi, dan investor masih melihat risiko fiskal serta neraca eksternal, rupiah berisiko bertahan di kisaran Rp17.800โRp18.000. "Pasar masih membutuhkan bukti perbaikan yang lebih kuat, bukan hanya pernyataan optimistis," tegas Josua.
Senada dengan Josua, Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, menambahkan bahwa penipisan surplus perdagangan dapat memperburuk defisit transaksi berjalan ke depan. Meskipun ada kemungkinan penguatan saat faktor musiman berakhir, risiko dari kebijakan moneter global yang semakin hawkishโseperti kenaikan suku bunga oleh ECB dan Fedโtetap membayangi.
Bagi pelaku pasar Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa ketahanan eksternal ekonomi tidak bisa hanya mengandalan surplus perdagangan semata. Diperlukan langkah struktural untuk memperkuat fundamental, termasuk diversifikasi ekspor dan pengelolaan fiskal yang lebih kredibel. Tanpa itu, rupiah mungkin akan terus berada di zona berbahaya, dan target penguatan hanya akan menjadi harapan tanpa kepastian.



