Perdana Menteri Jepang Bertekad Buka Jalan Baru soal Warga yang Diculik Korea Utara
Baca dalam 60 detik
- PM Jepang Sanae Takaichi berjanji mencapai terobosan dalam kasus penculikan warga Jepang oleh Korea Utara, termasuk melalui kemungkinan pertemuan puncak.
- Dari 17 warga yang resmi terdaftar diculik pada 1970-1980an, hanya lima yang kembali pada 2002 setelah kunjungan bersejarah PM Koizumi ke Pyongyang.
- Takaichi mendesak Kim Jong-un mengambil langkah berani demi kedua bangsa, namun belum ada pertemuan puncak sejak 2004.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan komitmennya untuk mencapai terobosan dalam menyelesaikan kasus penculikan warga Jepang oleh Korea Utara, dengan mempertimbangkan segala opsi termasuk pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dalam sebuah acara di Tokyo yang menuntut pemulangan para korban, Takaichi mendesak Kim untuk mengambil langkah berani demi kepentingan bersama kedua negara.
โApa pun yang diperlukan, saya akan menyelesaikan masalah penculikan ini dengan membuat terobosan selama masa jabatan saya,โ ujar Takaichi, yang menjabat perdana menteri sejak Oktober lalu, di hadapan keluarga korban dan pendukung mereka. Ia menambahkan, pemerintahannya menangani isu ini dengan serius dan tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apa pun untuk mencapai kemajuan konkret, bahkan jika hanya selisih sehari atau sejam.
Pemerintah Jepang secara resmi mencatat 17 warga negaranya diculik oleh Korea Utara pada tahun 1970-an dan 1980-an. Dari jumlah tersebut, lima orang berhasil kembali pada tahun 2002 setelah Perdana Menteri Junichiro Koizumi saat itu bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-il di Pyongyang pada 17 September 2002. Pertemuan tersebut merupakan KTT pertama antara kedua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik. Sejak itu, tidak ada lagi pertemuan puncak yang digelar setelah Koizumi dan Kim Jong-il bertemu kembali di Pyongyang pada 2004.
Kasus penculikan ini telah menjadi batu sandungan dalam hubungan bilateral Jepang-Korea Utara selama puluhan tahun. Jepang terus mendesak Pyongyang untuk mengembalikan semua korban dan memberikan informasi lengkap mengenai nasib mereka. Namun, Korea Utara membantah tuduhan penculikan dan mengklaim bahwa warga Jepang yang disebutkan telah meninggal atau tidak pernah berada di wilayahnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi tersendiri mengingat posisi strategis Jepang sebagai mitra dagang utama dan investor di kawasan. Stabilitas di Semenanjung Korea juga berdampak pada keamanan regional, termasuk arus perdagangan dan investasi di Asia Timur. Selain itu, pendekatan diplomasi Jepang yang mengedepankan dialog langsung dengan Korea Utara dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menyelesaikan sengketa bilateral yang rumit.
Menurut analis hubungan internasional, pernyataan Takaichi menunjukkan keseriusan Tokyo untuk memanfaatkan momentum politik saat ini, meskipun tantangan besar masih membayangi. โKorea Utara selama ini enggan berunding tanpa imbalan signifikan, seperti pencabutan sanksi atau bantuan ekonomi. Pertemuan puncak bisa menjadi pintu masuk, tetapi belum ada jaminan hasil konkret,โ ujar seorang pengamat dari Universitas Tokyo.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Kim Jong-un akan merespons tawaran dialog dari Jepang, atau justru menggunakan isu penculikan sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi yang lebih luas. Sementara itu, keluarga korban terus menanti kepastian, berharap bahwa janji terobosan Takaichi bukan sekadar retorika politik.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7602067/original/089146100_1780385925-Nadiem_Makarim.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5550396/original/088397900_1775689022-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_05.41.12.jpeg)