Rubio Tegaskan Status Quo Taiwan Tak Berubah, Bantah Pernyataan Trump soal Senjata
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan kebijakan Washington terhadap Taiwan tetap pada status quo, meredakan kekhawatiran setelah pernyataan Trump yang mengaitkan penjualan senjata dengan negosiasi dengan China.
- Pernyataan Rubio muncul di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menggarisbawahi bahwa tidak ada perubahan kebijakan meskipun Trump menyebut paket senjata senilai $14 miliar sebagai 'alat tawar'.
- Komentar Trump sebelumnya memicu kecemasan di Taiwan dan sekutu AS di Asia, namun Rubio memastikan keputusan soal penjualan senjata tetap berada di tangan presiden tanpa tekanan dari Beijing.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio kembali menegaskan bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak mengalami perubahan, dengan menekankan pentingnya mempertahankan status quo demi stabilitas di kawasan. Pernyataan ini disampaikan dalam sidang di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Selasa (3/6/2026), sebagai respons atas kekhawatiran yang muncul setelah Presiden Donald Trump menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai 'alat tawar' dalam hubungan dengan China.
Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional, menegaskan bahwa tidak ada perubahan kebijakan AS terhadap Taiwan. "Yang terpenting untuk dipahami adalah kami ingin melihat status quo dipertahankan seperti saat ini. Itulah kebijakan kami," ujarnya. Pernyataan ini menjadi penegasan setelah Trump dalam wawancara dengan Fox News bulan lalu mengatakan bahwa paket senjata senilai $14 miliar untuk Taiwan ditahan dan bergantung pada perkembangan hubungan dengan China.
Pernyataan Trump sebelumnya ditafsirkan sebagai sinyal bahwa komitmen AS terhadap Taiwan bisa fleksibel demi kesepakatan dengan Beijing. Hal ini memicu kecemasan di Taiwan dan sekutu AS di Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan, yang khawatir kebijakan AS terhadap kawasan bisa berubah sewaktu-waktu. Namun, Rubio membantah adanya kaitan antara penundaan paket senjata dengan tekanan dari China. "Mereka terus-menerus membicarakan penjualan senjata ke Taiwan, tapi itu sama sekali tidak menunda pengambilan keputusan kami," katanya.
Rubio, yang baru saja mendampingi Trump dalam pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pertengahan Mei, mengakui adanya ketegangan signifikan dalam hubungan AS-China. "Ada iritasi yang sangat jelas dalam hubungan kami dengan China. Yang kami coba lakukan adalah mengelola periode stabilitas strategis, sambil menyadari bahwa ada area persaingan yang akan berlangsung tidak hanya bertahun-tahun, tapi mungkin puluhan tahun," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya dialog, persaingan antara dua negara adidaya diperkirakan akan berlangsung lama.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang secara tradisional menganut politik bebas aktif, Indonesia perlu mencermati perubahan kebijakan AS di kawasan. Jika komitmen AS terhadap Taiwan dianggap goyah, hal itu bisa mempengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Tenggara, terutama terkait Laut China Selatan. Selain itu, ketidakpastian hubungan AS-China juga berdampak pada stabilitas ekonomi regional, mengingat kedua negara adalah mitra dagang utama Indonesia.
Dalam sidang yang sama, Rubio juga membahas sejumlah isu global lainnya, termasuk perang dengan Iran, aliansi NATO, mineral kritis, dan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo. Mengenai Iran, Rubio mengakui bahwa negosiasi untuk mengakhiri konflik tidak mudah, sebagian karena rezim baru Iran yang 'agak terfragmentasi'. Namun, ia mengklaim bahwa pejabat Iran telah setuju untuk merundingkan aspek program nuklir yang sebelumnya ditolak. Presiden Trump juga mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Iran masih berlangsung, bertentangan dengan laporan media pemerintah Iran yang menyebut komunikasi terputus.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah Trump akan mengeksekusi paket senjata ke Taiwan atau justru menggunakannya sebagai alat tawar dalam kesepakatan yang lebih luas dengan China. Keputusan ini tidak hanya akan menentukan masa depan hubungan AS-China, tetapi juga menjadi ujian bagi kredibilitas komitmen AS terhadap sekutunya di Asia. Bagi Indonesia, stabilitas kawasan tetap menjadi prioritas, dan perubahan kebijakan AS di Taiwan bisa menjadi sinyal awal pergeseran geopolitik yang lebih besar.



