Rekaman Viral: Oknum Kepala Sekolah Hongkong Diduga Maki Petugas Keamanan Singapura
Baca dalam 60 detik
- Perselisihan parkir antara bus rombongan sekolah Hongkong dan petugas keamanan di Singapura berujung pada laporan makian dan intimidasi.
- Serikat pekerja keamanan Singapura mengecam tindakan kepala sekolah yang diduga melontarkan kata-kata kasar dan menghalangi tugas petugas.
- Insiden ini memicu diskusi tentang etika dan rasa hormat terhadap profesi keamanan di kawasan Asia Tenggara.

Seorang kepala sekolah asal Hongkong dilaporkan terlibat dalam perselisihan sengit dengan petugas keamanan di Singapura, yang berujung pada tuduhan makian dan perilaku tidak pantas. Insiden yang terjadi pada 22 Mei lalu ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial dan memicu respons tegas dari serikat pekerja keamanan setempat.
Menurut laporan Serikat Pekerja Keamanan Singapura (USE), kejadian bermula ketika sebuah bus wisata sewaan yang membawa 34 siswa dari Hongkong berhenti di jalan umum tepat di luar gerbang SAFRA Jurong. Bus tersebut terparkir di atas garis kuning ganda yang menandakan larangan berhenti, sehingga menghalangi akses masuk ke kompleks SAFRA. Waktu kejadian bertepatan dengan jam pulang penitipan anak, menyebabkan kemacetan parah dan menghalangi orang tua yang hendak menjemput anak mereka.
Petugas keamanan yang bertugas kemudian menegur sopir bus dan meminta kendaraan untuk dipindahkan. Namun, bukannya menyelesaikan masalah, situasi justru memanas ketika Lee Cheukโhing, kepala sekolah yang ikut serta dalam rombongan, turun tangan. USE menyatakan bahwa Lee melontarkan โrentetan makian agresifโ kepada petugas keamanan, yang direkam dan kemudian viral di media sosial.
Serikat pekerja keamanan dengan tegas mengecam perilaku Lee. Dalam pernyataan resmi, USE menekankan bahwa petugas keamanan hanya menjalankan tugas dan berhak diperlakukan dengan hormat. โTidak ada seorang pun yang boleh diperlakukan dengan cara seperti itu, apa pun profesinya,โ ujar juru bicara USE. Mereka juga mendesak pihak sekolah Hongkong untuk mengambil tindakan disipliner terhadap Lee.
Insiden ini menyoroti isu yang lebih luas tentang etika dan rasa hormat terhadap tenaga keamanan, terutama di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, profesi keamanan sering kali dipandang sebelah mata, dan kasus serupa bukanlah hal asing. Para pengamat menilai bahwa insiden ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghargai setiap profesi, termasuk petugas keamanan yang kerap bekerja dalam tekanan.
Ke depan, publik menanti respons resmi dari pihak sekolah Hongkong dan otoritas terkait. Apakah insiden ini akan berujung pada sanksi bagi Lee, atau justru memicu dialog antarbudaya yang lebih konstruktif? Yang jelas, rekaman tersebut telah menjadi pengingat bahwa rasa hormat adalah nilai universal yang harus dijunjung tinggi, di mana pun kita berada.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7507672/original/005412200_1780279902-IMG-20260531-WA0002.jpg)
