Petenis Paraguay Kena Denda Besar Usai Ledek Wasit Wanita di Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Petenis Adolfo Daniel Vallejo dijatuhi denda signifikan oleh panitia Prancis Terbuka setelah melontarkan komentar seksis kepada wasit wanita asal Brasil.
- Vallejo menyebut wasit wanita tidak punya nyali mengendalikan penonton, padahal ia kalah dalam laga lima set yang berlangsung hampir lima jam.
- Aturan Grand Slam memungkinkan denda hingga 100 ribu dolar AS, dan FFT menegaskan kompetensi wasit tidak ditentukan oleh gender.

Petenis Paraguay Adolfo Daniel Vallejo harus merelakan sebagian besar hadiahnya setelah panitia Prancis Terbuka menjatuhkan denda besar atas pernyataan seksis yang dilontarkannya kepada wasit wanita. Vallejo, yang baru pertama kali tampil di babak utama Grand Slam, menyebut wasit Ana Carvalho tidak kompeten karena gender-nya.
Komentar kontroversial itu muncul setelah Vallejo kalah dari petenis remaja Prancis, Moise Kouame, dalam pertarungan lima set yang berlangsung selama 4 jam 58 menit di Court Suzanne-Lenglen, Kamis (30/5). Kouame, yang baru berusia 17 tahun, mendapat dukungan penuh dari penonton tuan rumah. Vallejo yang menempati peringkat 71 dunia mengaku wasit Carvalho gagal mengendalikan atmosfer tribun yang dianggapnya "mengganggu" dan "tidak sopan".
Dalam wawancara dengan majalah Clay yang diverifikasi BBC Sport, Vallejo dengan tegas menyatakan, "Saya pikir pertandingan seperti ini seharusnya diwasiti oleh pria. Sangat sulit bagi wanita untuk melakukannya karena penonton sangat mengganggu dan Anda butuh banyak keberanian untuk melawan mereka." Ia bahkan menambahkan bahwa kehadiran wasit pria akan membuat perbedaan mutlak. Pernyataan ini sontak memicu kecaman dari Federasi Tenis Prancis (FFT) dan penyelenggara turnamen.
FFT bergerak cepat dengan mengeluarkan pernyataan tegas. "Turnamen sangat mengutuk semua pernyataan seksis, terlepas dari siapa yang membuatnya," bunyi pernyataan resmi. "Kompetensi seorang wasit tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh profesionalisme dan kemampuan mereka memimpin di level tertinggi. Hasil pertandingan, baik positif maupun negatif, tidak pernah bisa membenarkan ucapan semacam itu."
Vallejo kemudian mencoba meredam kemarahan publik melalui media sosial. Di akun X-nya, ia mengklaim bahwa pernyataannya telah diambil di luar konteks dan ia hanya merujuk pada Carvalho secara spesifik, bukan semua wasit wanita. Namun, penyelenggara tetap pada pendiriannya untuk memberikan sanksi finansial yang signifikan.
Insiden ini mengingatkan pada kasus serupa di dunia olahraga Indonesia, di mana komentar bernuansa gender kerap menimbulkan polemik. Di tenis, wasit wanita seperti Eva Asderaki dari Yunani atau Marijana Veljovic dari Serbia telah memimpin pertandingan Grand Slam tanpa masalah berarti. Kasus Vallejo menjadi pengingat bahwa bias gender masih menghantui olahraga profesional, terutama saat tekanan penonton sedang tinggi.
Aturan Grand Slam secara eksplisit menyatakan bahwa pemain harus bersikap sportif dan menghormati otoritas ofisial. Vallejo terancam denda maksimal $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) untuk pelanggaran ini. Pertanyaannya, apakah sanksi finansial cukup untuk mengubah perilaku pemain di masa depan, atau perlu ada edukasi lebih mendalam tentang kesetaraan gender di sirkuit tenis?



