Stephen Curry Ganti Haluan: Bintang NBA Gaet Raksasa China Li-Ning
Baca dalam 60 detik
- Stephen Curry resmi bermitra dengan Li-Ning, menandai kolaborasi pertamanya dengan merek China setelah 12 tahun bersama Under Armour.
- Kesepakatan ini menjadi batu loncatan bagi Li-Ning untuk menembus pasar global, sekaligus memperkuat dominasi merek China di kancah olahraga internasional.
- Langkah Curry mengikuti jejak bintang NBA lain seperti Dwyane Wade dan Kyrie Irving, yang telah lebih dulu menjalin kerja sama dengan merek China.

Bintang Golden State Warriors, Stephen Curry, resmi mengikat kerja sama dengan raksasa perlengkapan olahraga asal China, Li-Ning. Keputusan ini mengakhiri spekulasi panjang mengenai masa depan lini produk Curry setelah ia berpisah dengan Under Armour tahun lalu. Bagi Li-Ning, merekrut pemain yang dijuluki sebagai penembak terbaik dalam sejarah NBA ini menjadi langkah ambisius untuk memperkuat posisinya di panggung global.
Curry, yang genap berusia 38 tahun, sebelumnya menjalin kemitraan selama 12 tahun dengan Under Armour. Setelah kontrak itu berakhir, ia bebas menentukan mitra ritel baru untuk lini sepatu dan pakaian olahraganya. Kini, Curry dan Li-Ning sepakat untuk mengembangkan produk bersama dan meluncurkan gerai khusus Curry Brand di Amerika Serikat dan China. Nilai kesepakatan tidak diungkapkan ke publik.
Dalam video yang diunggah di situs bisnisnya, Thirty Ink, Curry menyatakan bahwa kerja sama ini akan memberi mereknya "landasan sumber daya yang lebih luas" untuk mengembangkan portofolio basket, golf, dan lainnya secara global. "Kami berencana meluncurkan toko Curry Brand bersama di China dan AS, untuk melanjutkan kesuksesan yang telah dibangun Li-Ning dengan pertumbuhan yang lebih besar lagi," ujarnya.
Langkah Curry ini tidak terlepas dari strategi besar Li-Ning yang tengah gencar melakukan ekspansi internasional. Perusahaan yang didirikan oleh mantan atlet Li Ning ini telah lama berambisi menjadi pemain global, bersaing dengan raksasa seperti Nike dan Adidas. Di China sendiri, persaingan merek lokal semakin ketat, dengan Anta sebagai pesaing utama yang juga sukses menggaet bintang NBA. Anta bahkan telah mengakuisisi hak merek Fila dan baru-baru ini membeli saham signifikan di Puma, menandai pergeseran kekuatan dari Barat ke Timur.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini menarik dicermati. Merek-merek China seperti Li-Ning dan Anta mulai merambah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan harga yang lebih kompetitif dibandingkan merek global. Jika Li-Ning sukses mengglobal bersama Curry, bukan tidak mungkin produknya akan semakin mudah ditemukan di pusat perbelanjaan Tanah Air. Di sisi lain, konsumen Indonesia yang gemar basketโolahraga dengan basis penggemar besarโkini memiliki lebih banyak pilihan sepatu dan apparel dengan harga terjangkau namun berteknologi tinggi.
Namun, tantangan tetap ada. Pasar China sendiri sedang lesu akibat perlambatan belanja domestik, sementara merek Barat masih berjuang merebut pangsa pasar di negeri Tirai Bambu. Curry, yang merupakan ikon global, diharapkan mampu menjadi jembatan bagi Li-Ning untuk menembus pasar AS dan Eropa. Pertanyaannya, akankah kolaborasi ini mampu menggeser dominasi Nike dan Adidas di kancah global? Atau justru akan menjadi bukti bahwa era baru industri olahraga dikuasai oleh merek-merek China?
.jpeg)


