Pertempuran Dua Petenis Ukraina di Roland Garros: Lebih dari Sekadar Tenis
Baca dalam 60 detik
- Elina Svitolina dan Marta Kostyuk akan bertemu di perempat final Prancis Terbuka, memastikan satu tempat di semifinal untuk Ukraina.
- Di tengah invasi Rusia, pencapaian ini menjadi simbol ketahanan dan kebanggaan nasional bagi Ukraina.
- Kostyuk, yang rumahnya nyaris terkena rudal, menunjukkan performa luar biasa dengan 15 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah tenis profesional, dua petenis putri Ukraina akan saling berhadapan di perempat final Grand Slam, menjadikan laga Elina Svitolina versus Marta Kostyuk di Roland Garros, Selasa (4/6), sebagai babak bersejarah yang sarat makna di luar olahraga.
Pertemuan ini bukan sekadar perebutan tiket semifinal. Di tengah perang yang berkecamuk di tanah air mereka sejak invasi Rusia pada Februari 2022, Svitolina dan Kostyuk menjelma menjadi simbol perlawanan dan harapan. Momen saling memberi semangat di lorong stadion usai kemenangan Kostyuk pada babak keempat menjadi bukti ikatan yang melampaui persaingan individu. "Mereka bersatu dan bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari tenis," ujar mantan petenis Inggris Anne Keothavong kepada TNT Sports.
Kemenangan siapa pun di laga nanti akan mengukir sejarah: menjadi petenis putri Ukraina pertama yang mencapai semifinal Prancis Terbuka sejak era profesional dimulai pada 1968. Prestasi ini terasa semakin heroik mengingat kondisi yang dihadapi kedua atlet. "Akan ada wakil Ukraina di semifinal, itu sudah luar biasa," kata Svitolina usai mengalahkan Belinda Bencic. "Ini pencapaian menakjubkan bagi tenis Ukraina, terutama di tengah situasi sulit seperti sekarang."
Kisah Kostyuk bahkan lebih dramatis. Petenis berusia 23 tahun itu memulai turnamen dengan "salah satu pertandingan tersulit" dalam hidupnya setelah rudal Rusia nyaris menghantam rumah keluarganya di Kyiv sehari sebelum laga pertama. Ia menunjukkan foto bangunan terbakar yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya kepada wartawan. Meski demikian, ia berhasil memperpanjang rekor kemenangan beruntun di lapangan tanah liat menjadi 15 pertandingan. "Itu memberi perspektif berbeda," ujar Kostyuk. "Sebelum pertandingan pertama, saya bahkan tidak tahu apa yang saya lakukan di sini. Ini tidak penting sama sekali. Ada hal yang jauh lebih besar dalam hidup daripada tenis."
Ketangguhan mental Kostyuk juga terlihat saat ia menari di lapangan sambil menunggu Iga Swiatek kembali ke lapangan pada kemenangan straight-set atas juara bertahan empat kali itu. Sikap rileks ini kontras dengan masa lalunya yang terlalu keras pada diri sendiri. Kini, ia bertekad menikmati setiap momen. "Saya mencoba selalu mengingat hal itu," tambahnya.
Bagi Indonesia, kisah Svitolina dan Kostyuk menjadi pengingat bahwa olahraga bisa menjadi medium diplomasi dan ketahanan nasional. Di tengah konflik, prestasi atlet Ukraina menunjukkan bagaimana semangat juang mampu melampaui keterbatasan. Dengan tujuh petenis putri Ukraina di peringkat 100 besar, negeri itu membuktikan kekuatan pembinaan atlet di tengah perang. "Mereka benar-benar teladan yang melampaui olahraga," puji mantan petenis nomor satu Inggris, Johanna Konta.
Pertandingan perempat final nanti bukan hanya soal pemenang, melainkan tentang warisan. Siapa pun yang melaju, satu hal pasti: tenis Ukraina telah menorehkan tinta emas di Roland Garros. Pertanyaannya, mampukah mereka mempertahankan momentum ini di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti negara mereka?
.jpeg)


