Kematian Atlet Paralimpiade Akibat Rangka Latihan Roboh: 'Kecelakaan yang Sudah Ditunggu'
Baca dalam 60 detik
- Atlet tolak peluru Paralimpiade asal Uni Emirat Arab tewas tertimpa rangka besi seberat 25 kg di London pada 2017.
- UK Athletics dan mantan kepala olahraganya mengaku bersalah atas pembunuhan korporasi dan pelanggaran keselamatan kerja.
- Jaksa menyebut insiden itu akibat kelalaian sistemik, dengan komponen penting yang hilang dan budaya pemasangan yang tidak aman.

Kematian tragis atlet Paralimpiade Abdullah Hayayei di London pada Juli 2017 terungkap sebagai 'kecelakaan yang sudah ditunggu' akibat kelalaian sistemik dalam penyelenggaraan kejuaraan atletik dunia. Hayayei, pelempar tolak peluru kursi roda asal Uni Emirat Arab, tewas seketika setelah rangka besi seberat 25 kilogram jatuh menimpa kepalanya saat berlatih di fasilitas Newham, London Timur.
Dalam sidang vonis di Pengadilan Kriminal Pusat London (Old Bailey) pekan ini, jaksa John Price KC mengungkapkan bahwa peralatan latihan yang digunakan Hayayei saat itu dalam kondisi tidak lengkap. Sejumlah baut dan komponen penyangga utama hilang, sehingga seluruh struktur rangka ambruk saat diterpa angin kencang. Hayayei, yang juga menderita cerebral palsy, meninggal di tempat kejadian.
UK Athletics, sebagai penyelenggara Kejuaraan Dunia Para Atletik 2017, kini menghadapi vonis atas tuduhan pembunuhan korporasi. Sementara itu, Keith Davies (78), mantan kepala bidang olahraga UK Athletics, diadili karena melanggar undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja. Keduanya telah mengaku bersalah dalam sidang sebelumnya.
Jaksa Price mengecam pernyataan hukum yang dibuat UK Athletics beberapa tahun setelah insiden sebagai 'dokumen yang sangat tidak layak oleh badan olahraga nasional dan seharusnya membuat mereka malu'. Menurut Price, UK Athletics justru berusaha menyalahkan Davies sepenuhnya dan bahkan menuding venue Newham sebagai penyebab kecelakaan. Padahal, bukti menunjukkan bahwa Davies mengetahui ketidaklengkapan peralatan namun tetap mengizinkan penggunaannya.
Dalam pernyataan dampak korban yang dibacakan di pengadilan, janda Hayayei, Badriah Rashid Zayed Al-Yahyaei, menggambarkan betapa kepergian suaminya meninggalkan luka mendalam. 'Suami saya pergi untuk mewakili negaranya, mengangkat nama UAE, dan pulang sebagai jenazah,' ujarnya. Ia menekankan bahwa kematian itu akibat kelalaian berat yang seharusnya bisa dicegah jika aturan keselamatan dipatuhi.
Kuasa hukum Davies, Mark Balysz KC, menyatakan bahwa kliennya telah menulis surat ke pengadilan sebelum vonis. Davies mengaku 'sangat sulit' menerima kematian atlet tersebut dan setiap malam terbangun memikirkan kehilangan itu serta keluarga korban. Perasaan itu semakin intens sejak ia mengetahui penyelidikan atas tuduhan pembunuhan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya standar keselamatan dalam penyelenggaraan event olahraga internasional. Di Indonesia, di mana atlet Paralimpiade juga kerap berlatih dengan fasilitas terbatas, insiden serupa bisa terjadi jika pengawasan dan pemeliharaan peralatan diabaikan. Federasi olahraga dan penyelenggara acara di Tanah Air perlu mengevaluasi prosedur keselamatan mereka untuk mencegah tragedi serupa.
Hakim Richard Marks KC dijadwalkan menjatuhkan vonis pada Selasa mendatang. Keputusan ini akan menjadi preseden penting bagi akuntabilitas korporasi dalam industri olahraga, terutama terkait keselamatan atlet penyandang disabilitas yang seringkali lebih rentan terhadap risiko kecelakaan.


