Bintang Rugby Selandia Baru Terjebak di Persimpangan: Kontrak Inggris vs Impian All Blacks
Baca dalam 60 detik
- Fehi Fineanganofo, pemain sayap tajam Hurricanes, dihadapkan pada pilihan antara bergabung dengan Newcastle Red Bulls di Inggris atau mengejar karier internasional bersama All Blacks.
- New Zealand Rugby membantah terlibat dalam pembatalan kontrak pemain tersebut, meskipun ada laporan yang menyebutkan upaya mempertahankannya di dalam negeri.
- Keputusan Fineanganofo akan berdampak pada peluangnya tampil di Piala Dunia Rugbi 2027 dan potensi pendapatan jangka panjang.

Karier Fehi Fineanganofo, pemain sayap berbakat asal Selandia Baru, berada di titik krusial. Ia harus memilih antara mengejar mimpi membela All Blacks atau memenuhi kontrak menggiurkan bersama Newcastle Red Bulls di Inggris. Keputusan ini tidak hanya menentukan masa depannya, tetapi juga memicu perdebatan tentang loyalitas dan insentif finansial dalam dunia rugbi profesional.
Fineanganofo, yang baru berusia 23 tahun, mencuri perhatian setelah menyamai rekor Super Rugby dengan 16 percobaan dalam satu musim bersama Hurricanes. Performa impresif ini membuatnya masuk dalam radar pelatih tim nasional Selandia Baru, Dave Rennie. Namun, jika ia pindah ke Newcastle, ia otomatis kehilangan statusnya sebagai pemain yang memenuhi syarat untuk All Blacks, sesuai aturan World Rugby.
Kontrak dua tahun Fineanganofo bersama Newcastle dilaporkan bernilai sekitar ยฃ200.000 per tahunโangka yang sulit ditandingi oleh tawaran domestik. Meskipun demikian, bermain untuk All Blacks bisa membuka pintu menuju kontrak yang jauh lebih besar di masa depan, terutama dengan Piala Dunia Rugbi 2027 yang akan digelar di Australia. Ini adalah dilema klasik antara keuntungan jangka pendek dan potensi jangka panjang.
New Zealand Rugby (NZR) dengan tegas membantah terlibat dalam upaya membatalkan kontrak Fineanganofo. CEO Steve Lancaster menyatakan bahwa keputusan sepenuhnya ada di tangan pemain. โKami tidak biasa melakukan hal seperti itu. Ini adalah pilihan pemain,โ ujarnya. Namun, agen Fineanganofo, Bruce Sharrock, justru mendorong NZR untuk bernegosiasi langsung dengan Newcastle jika ingin mempertahankan kliennya. Sharrock mengingatkan bahwa NZR sebelumnya pernah gagal memberikan tawaran yang kompetitif.
Kasus ini mengingatkan pada insiden 2015, ketika NZR mencapai kesepakatan dengan klub Prancis Clermont Auvergne untuk membatalkan kontrak Waisake Naholo. Saat itu, NZR dianggap berhasil mempertahankan pemainnya. Namun, kali ini NZR bersikeras tidak akan mengulangi langkah serupa. Perbedaan sikap ini menunjukkan perubahan kebijakan internal atau mungkin tekanan dari aturan World Rugby yang melarang federasi nasional mempengaruhi pemain untuk memutuskan kontrak klub.
Bagi Indonesia, meskipun rugbi bukan olahraga utama, kisah Fineanganofo relevan sebagai contoh bagaimana atlet muda di negara berkembang sering menghadapi dilema serupa: antara mengejar karier di luar negeri dengan imbalan finansial besar atau tetap di dalam negeri demi peluang membela tim nasional. Fenomena ini umum terjadi di sepak bola, bulu tangkis, dan olahraga lain di Indonesia. Keputusan Fineanganofo bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya perencanaan karier jangka panjang dan negosiasi kontrak yang cerdas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Fineanganofo memilih kepastian finansial di Inggris atau mengejar mimpi menjadi All Black? Dan apakah NZR akan tetap pada pendiriannya atau akhirnya turun tangan seperti yang dilakukan pada 2015? Jawabannya akan menentukan tidak hanya nasib pemain muda ini, tetapi juga preseden bagi hubungan antara federasi rugbi Selandia Baru dengan pemain-pemainnya yang berbakat.


