To Lam Peringatkan Tiga Krisis yang Mengancam Keamanan Asia-Pasifik
Baca dalam 60 detik
- Presiden Vietnam To Lam mengidentifikasi tiga krisis yang saling memperkuat di Asia-Pasifik: perubahan tatanan dunia, erosi globalisasi, dan hilangnya kepercayaan antarnegara.
- Dalam pidato utama di Shangri-La Dialogue ke-23, Lam menekankan bahwa kawasan ini menjadi pusat pertumbuhan namun juga ajang kompetisi strategis yang intens.
- Lam menyerukan kerangka kerja strategis untuk membangun kepercayaan guna mencegah ancaman yang semakin kompleks akibat teknologi baru.

Presiden Vietnam To Lam memperingatkan bahwa tiga krisis besar tengah bertumpuk di kawasan Asia-Pasifik, mengancam stabilitas dan keamanan regional. Dalam pidato utama di Shangri-La Dialogue ke-23 di Singapura, Lam menyebut perubahan tatanan dunia yang mengedepankan kekuatan, erosi globalisasi, serta hilangnya kepercayaan antarnegara sebagai ancaman yang saling memperkuat.
Berbicara di hadapan para menteri pertahanan, panglima militer, diplomat, dan analis, Lam menekankan bahwa Asia-Pasifik, meskipun menjadi pusat pertumbuhan paling dinamis di dunia, juga menjadi panggung kompetisi strategis yang sengit. Kawasan ini, menurutnya, sangat bergantung pada jalur maritim vital namun penuh risiko, serta mendapat manfaat besar dari globalisasi namun kini menghadapi tekanan fragmentasi rantai pasok, perubahan iklim, transisi teknologi, dan kompetisi geoekonomi yang baru muncul.
โJustru karena tantangan-tantangan ini bertumpuk, Asia-Pasifik harus menjadi tempat lahirnya solusi,โ ujar Lam, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam. Ia menyerukan kerangka kerja strategis untuk membangun kepercayaan guna mencegah ancaman yang semakin kompleks.
Lam secara khusus menyoroti krisis kepercayaan strategis sebagai โkrisis senyap namun berbahayaโ yang menyebabkan negara-negara saling menafsirkan tindakan dengan kecurigaan dan kecemasan. Situasi ini, katanya, semakin rumit dengan perkembangan pesat teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan dan persenjataan siber, yang dapat memperburuk kesalahpahaman dan meningkatkan risiko konflik.
Bagi Indonesia, peringatan Lam relevan mengingat posisi strategis negara ini di jalur perdagangan laut dan perannya sebagai anggota ASEAN. Indonesia juga menghadapi tantangan serupa, seperti ketegangan di Laut China Selatan dan fragmentasi rantai pasok global. Para pengamat menilai bahwa seruan Lam untuk membangun kepercayaan dapat menjadi pijakan bagi diplomasi Indonesia di kawasan, terutama dalam mendorong dialog dan kerja sama konkret.
Lam juga menggarisbawahi bahwa globalisasi yang dulu menjadi motor pertumbuhan kini terancam oleh kebijakan proteksionisme dan fragmentasi ekonomi. Ia mendesak negara-negara Asia-Pasifik untuk tidak meninggalkan prinsip multilateralisme dan kerja sama internasional. โKita harus memastikan bahwa kawasan ini tetap menjadi contoh bagaimana perbedaan dapat dikelola melalui dialog, bukan konfrontasi,โ tegasnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negara-negara Asia-Pasifik mampu mengatasi krisis kepercayaan ini sebelum berujung pada konflik terbuka. Dengan semakin canggihnya teknologi militer dan meningkatnya persaingan antara AS dan China, stabilitas kawasan bergantung pada kemampuan para pemimpin untuk membangun mekanisme pencegahan dan komunikasi yang efektif.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7443608/original/002793800_1780219358-34ece42d-8437-49cc-aba8-ccb292d0ea86.jpeg)
