Allegri Gantikan Conte di Napoli: Sejarah Berulang dari Juventus
Baca dalam 60 detik
- Napoli dikabarkan sepakat secara lisan dengan Massimiliano Allegri untuk kontrak dua tahun mulai musim 2026-27.
- Pergantian ini mengulang pola yang terjadi di Juventus pada 2014, saat Conte hengkang dan Allegri datang dari Milan.
- Allegri baru setahun menangani Milan setelah sebelumnya sukses besar bersama Juventus dengan lima Scudetto beruntun.

Lagi-lagi Antonio Conte meninggalkan klub yang baru dibinanya, dan lagi-lagi Massimiliano Allegri diproyeksikan menjadi penggantinya. Napoli, yang musim depan akan kehilangan Conte, dikabarkan telah mencapai kesepakatan lisan dengan Allegri untuk menukangi tim Partenopei mulai musim 2026-27. Kesepakatan ini mengingatkan pada skenario serupa yang terjadi di Juventus lebih dari satu dekade lalu.
Menurut laporan media Italia, negosiasi antara Napoli dan Allegri mengalami akselerasi dalam 24 jam terakhir. Kedua pihak disebut telah menyetujui kontrak berdurasi dua tahun di Stadio Maradona. Allegri sendiri baru saja mengakhiri masa baktinya di AC Milan, yang diumumkan resmi sehari setelah musim 2025-26 berakhir. Milan gagal lolos ke Liga Champions pada hari terakhir musim, yang mempercepat keputusan klub untuk melepas Allegri.
Conte sudah mengonfirmasi bahwa ia akan meninggalkan Napoli pada akhir musim 2025-26, setelah hanya dua musim menangani klub asal Campania tersebut. Keputusan Conte untuk pergi bukanlah hal baru: ia dikenal sebagai pelatih yang jarang bertahan lama di satu klub. Juventus menjadi satu-satunya klub yang pernah ia tangani lebih dari dua musim, yaitu tiga musim penuh sebelum hengkang pada 2014.
Kala itu, Conte meninggalkan Juventus setelah mempersembahkan tiga Scudetto beruntun. Manajemen Bianconeri kemudian menunjuk Allegri, yang baru saja dipecat Milan. Allegri berhasil melanjutkan dominasi Juventus dengan meraih lima gelar Serie A beruntun, sebuah pencapaian yang memperkuat reputasinya sebagai ahli waris takhta Conte.
Bagi pengamat sepak bola Italia, skenario ini terasa déjà vu. Conte selalu meninggalkan klub dalam situasi yang mirip: setelah sukses awal, ia memilih hengkang karena perbedaan visi atau kelelahan. Allegri, yang dikenal pragmatis dan adaptif, kerap menjadi pilihan tepat untuk meneruskan proyek yang ditinggalkan Conte. Di Juventus, Allegri membuktikan diri dengan mempertahankan dominasi domestik dan mencapai final Liga Champions.
Namun, tantangan Allegri di Napoli akan berbeda. Partenopei belum sekonsisten Juventus dalam mempertahankan gelar. Sejak era Diego Maradona, Napoli hanya tiga kali juara Serie A. Allegri harus membangun kembali tim yang mungkin kehilangan beberapa pemain kunci, seperti Victor Osimhen yang santer dikaitkan dengan klub Premier League. Selain itu, tekanan dari suporter Napoli yang fanatik bisa menjadi ujian tersendiri.
Bagi pembaca di Indonesia, pergerakan pelatih top Eropa seperti Allegri dan Conte selalu menarik. Keduanya memiliki basis penggemar di Tanah Air, terutama karena kiprah mereka di Liga Champions yang sering disiarkan. Kepindahan Allegri ke Napoli juga bisa berdampak pada bursa transfer pemain, termasuk kemungkinan rekrutan pemain Asia atau Afrika yang kerap menjadi incaran klub Italia.
Pertanyaan besarnya: akankah Allegri mampu mengulang suksesnya di Juventus bersama Napoli? Atau justru pola sejarah berulang dengan cara berbeda—Allegri gagal dan Napoli kembali berganti pelatih dalam waktu singkat? Musim depan akan menjadi saksi.



