ILeague Hapus Kuota Pemain U-22 di Super League 2026/2027: Langkah Tepat atau Risiko?
Baca dalam 60 detik
- Operator kompetisi ILeague memutuskan menghapus kewajiban klub menurunkan pemain U-22 di BRI Super League mulai musim 2026/2027.
- Pengamat sepak bola Toni Ho menilai kebijakan ini menghilangkan proteksi berlebihan dan mendorong persaingan murni berdasarkan kualitas.
- Klub tetap bisa memainkan pemain muda jika dinilai layak, namun risikonya ditanggung sendiri tanpa jaminan menit bermain.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6997403/original/082455100_1779767631-dony__1_.jpg)
Operator kompetisi sepak bola profesional Indonesia, ILeague, memutuskan untuk menghapus kuota pemain U-22 di BRI Super League mulai musim 2026/2027. Keputusan ini langsung memicu perdebatan di kalangan pelaku sepak bola, namun pengamat senior Toni Ho menilai langkah tersebut sudah tepat dan sejalan dengan prinsip kompetisi profesional.
Menurut Toni Ho, kompetisi level tertinggi seharusnya tidak lagi menerapkan proteksi usia. "Tim senior adalah ajang bagi pemain terbaik, bukan tempat untuk memenuhi kuota. Pemain U-22 sudah bukan junior lagi jika mereka sudah masuk skuat senior," ujarnya. Ia mencontohkan Lamine Yamal yang menembus tim utama Barcelona di usia 17 tahun murni karena kualitas, bukan regulasi.
ILeague sendiri telah menyediakan wadah pembinaan usia muda melalui kompetisi Elite Pro Academy (EPA). Semua klub Super League diwajibkan berpartisipasi di EPA, sehingga regenerasi pemain tetap terjaga. "Jika ada pemain muda yang menonjol, klub tinggal mempromosikannya ke tim senior. Tidak perlu ada kuota yang memaksa," tambah mantan pelatih PSM dan Persipura itu.
Kebijakan ini memberikan keleluasaan bagi klub untuk menentukan komposisi skuat berdasarkan kebutuhan taktis dan finansial. Namun, risiko tetap ada: jika klub memilih memainkan pemain muda yang belum siap, konsekuensinya harus ditanggung sendiri. "Regulasi ini bukan untuk mematikan karier pemain muda, justru membuat mereka harus berlatih lebih keras untuk bersaing," tegas Toni Ho.
Dengan dihapusnya kuota, persaingan di Super League diprediksi semakin ketat. Pemain muda tidak lagi mendapat jatah menit bermain otomatis, melainkan harus merebut tempat melalui performa. Hal ini diyakini akan meningkatkan kualitas kompetisi secara keseluruhan. "Yang terbaik yang berhak tampil. Ini sepak bola profesional, bukan tempat untuk belajar," pungkasnya.
Ke depan, keputusan ILeague ini akan menjadi ujian bagi klub-klub dalam mengelola regenerasi pemain. Apakah mereka akan tetap memberikan kesempatan kepada pemain muda meski tanpa kewajiban, atau justru lebih memilih pemain senior yang lebih matang? Hanya waktu yang akan menjawab apakah langkah ini benar-benar membawa dampak positif bagi sepak bola Indonesia.



